Intel AS: Rudal Korut Tak Bergantung Pada Mesin Ukraina

Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Rabu, 16/08/2017 08:20 WIB
Intel AS: Rudal Korut Tak Bergantung Pada Mesin Ukraina Pejabat intelijen AS menyebut rudal Korut tidak bergantung kepada mesin impor. (KCNA/via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah pejabat intelijen Amerika Serikat menyebut Korea Utara kemungkinan besar mempunyai kemampuan untuk memproduksi mesin peluru kendali sendiri dan tidak bergantung pada impor.

Hasil peninjauan intelijen ini bertentangan dengan penelitian terbaru yang dilakukan oleh International for Strategic Studies di London. Laporan organisasi itu menyatakan mesin-mesin yang digunakan rudal Korut mungkin dibuat di Ukraina atau Rusia.

"Kami mendapatkan informasi intelijen yang menunjukkan bahwa Korea Utara tidak bergantung pada impor mesin," kata seorang pejabat intelijen kepada Reuters, Selasa (15/8). "Alih-alih, kami menilai mereka mampu memproduksi mesin sendiri."


Dia tidak mengungkap detail kesimpulan hasil peninjauan intelijen terhadap mesin performa tinggi berbahan bakar cair RD-250 itu.

Ukraina menampik pihaknya memasok teknologi pertahanan ke Korea Utara. Yuzhmash, pabrik Ukraina yang disebut dalam laporan terdahulu, juga menyatakan tidak pernah membuat rudal balistik militer sejak kejatuhan Uni Soviet, 1991.

Pejabat intelijen AS lainnya menyatakan modifikasi yang meningkatkan keandalan RD-250 itu mungkin berkat peneliti asing yang direkrut Korea Utara atau dikembangkan oleh warga Korut yang pernah belajar di Rusia atau negara lain.

Korea Utara dilaporkan diduga menggunakan jaringan pasar gelap untuk membeli mesin roket berkekuatan tinggi yang dibuat oleh pabrik di Ukraina itu.
Laporan analisis IISS itu sebenarnya bisa saja jadi penjelasan soal kemajuan pesat pada program peluru kendali Pyongyang dalam beberapa bulan belakangan.

Kemajuan program pengembangan rudal balistik antarbenua alias ICBM Korut yang misterius terjadi setelah uji coba sejumlah senjata jarak menengahnya gagal pada 2016 lalu.

Setelah serangkaian kegagalan itu, badan-badan intelijen Amerika Serikat tidak ada yang memperkirakan Korea Utara bisa mencapai banyak keberhasilan dalam waktu singkat.