"Saya pikir perlu dicatat, kita tidak melihat peluncuran peluru kendali atau aksi-aksi provokatif dari, atau tindakan provokatif, dari pihak Korea Utara sejak resolusi Dewan Keamanan" menjatuhkan sanksi terhadap Pyongyang pada 5 Agustus lalu, kata Tillerson di kantornya, Selasa (23/8).
"Saya senang melihat rezim di Pyongyang mengendalikan sikap," ujarnya sebagaimana dikutip CNN. "Kami berharap ini adalah sinyal yang selama ini kita inginkan, bahwa mereka siap untuk menahan tindakan provokatif. Dan mungkin kita melihat jalan di masa yang akan datang untuk mengadakan dialog."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketegangan di Asia meningkat pada Juli, setelah Korea Utara menguji coba dua rudal balistik antarbenua alias ICBM yang secara teori bisa mencapai daratan utama Amerika. Peluncuran itu memicu suara bulat Dewan Keamanan PBB untuk menjatuhkan sanksi yang memangkas sepertiga dari $3 milyar pemasukan Korut.
Kemudian ketegangan memuncak di awal Agustus setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menghujani Korut dengan "api dan kemarahan yang belum pernah ada di dunia" jika pemerintahan Kim Jong-un terus mengancam Amerika Serikat. Pyongyang merespons dengan lebih banyak ancaman, termasuk sumpah untuk meluncurkan empat rudal wilayah AS di Pasifik.
Lihat juga:Korut-Suriah Diduga Kerja Sama Senjata Kimia |
Namun, sebagaimana ditunjukkan Tillerson, Korut masih belum mengambil langkah militer. "Saya ingin mencatat dan mengakui itu," kata Tillerson. "Kita harus melihat lebih banyak hal seperti ini tapi saya juga ingin mengakui langkah yang mereka ambil sejauh ini."
(aal)