Pertempuran di Marawi sudah memasuki bulan keempat. Kelompok ini mengibarkan bendera ISIS di Marawi sejak 23 Mei lalu sehingga Presiden Rodrigo Duterte memberlakukan darurat militer.
Video itu dirilis sementara kelompok Maute terus bertempur dengan pasukan pemerintah di kota dengan penduduk mayoritas Muslim itu. Hal ini dikhawatirkan berujung pada pembentukan basis baru ISIS di kawasan, setelah terdesak di Timur Tengah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rekaman itu menunjukkan gambar-gambar jenazah tentara Filipina dan para "martir" yang tewas di medan perang, disertai narator beraksen Amerika yang berbicara soal "penaklukan" Muslim di Filipina.
Video dibuka dengan adegan menunjukkan anak-anak muda terlibat dalam pertempuran sengit di antara reruntuhan bangunan kota, membawa senapan AK-47 menembus tembakan mortir dan serangan udara.
Dari adegan yang mirip dengan keadaan di Mosul, Irak, gambar beralih ke rekaman penghancuran sebuah gereja katolik, di mana para militan meruntuhkan salib, menghancurkan patung Bunda Maria dan menyobek poster Paus.
Kelompok teror itu kemudian meluapkan kemarahannya kepada Duterte yang mereka sebut meminta tolong kepada "tuannya, pelindung salib, Amerika, bersama anjing penjaga regional Australia."
ISIS menuding para sekutu Filipina membantu Duterte melalui "operasi udara kejam" terhadap kelompok teror itu. Demikian dilaporkan The Telegraph.
Indonesia menjadi salah satu negara yang khawatir akan penyebaran kelompok teror dari Marawi. Negara ini telah dihantam berbagai serangan ISIS atau terinspirasi ISIS sejak aksi bom dan penembakan di Thamrin, Jakarta, awal tahun lalu.
(aal)