Peristiwa ini menjadi titik eskalasi terbaru dalam serangkaian konflik yang telah melanda Rakhine sejak Oktober lalu. Saat itu, pemerintah menyebut serangan serupa menewaskan sembilan polisi, disusul serangan balik petugas yang disertai dugaan pembunuhan, pemerkosaan dan pembakaran rumah.
Operasi militer itu memaksa 87 ribu Rohingya mengungsi ke Bangladesh dan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan pasukan keamanan Myanmar melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Informasi awal, setidaknya lima polisi tewas, dua senjata direbut dan tujuh jenazah ekstremis pemberontak Benggala telah dikumpulkan," kata komisi informasi yang terafiliasi dengan kantor penasihat negara, Aung San Suu Kyi.
Pernyataan itu menggunakan istilah menghina seperti "Benggala" untuk menyiratkan Rogingya sebagai imigran ilegal dari Bangladesh.
Dalam pernyataan itu juga disebutkan satu per satu nama 24 petugas yang mengalami serangan. Selain itu, dinyatakan polisi dan tentara terus berperang melawan para pemberontak.
Masih dalam pernyataan tersebut, pemerintah juga menyatakan sekitar 150 warga Rohingya mencoba menembus masuk ke dalam sebuah pangkalan militer sehingga tentara terpicu untuk melakukan serangan balik.
Kedua peristiwa ini terjadi sehari setelah panel yang dipimpin oleh Kofi Annan, mantan sekretaris jenderal PBB, menyelesaikan penelitian untuk menasihati pemerintahan Suu Kyi soal solusi jangka panjang di negara bagian yang terpecah karena isu SARA itu.
Warga Rohingya tidak diberikan status kewarganegaraan dan dikategorikan sebagai imigran ilegal dari Bangladesh. Padahal, etnis yang kerap mengalami marjinalisasi dan kekerasan tersebut mengklaim mempunyai akar di kawasan itu sejak beberapa abad lalu.