Dalam sebuah foto yang diunggah media setempat, tampak staf konsultan San Fransisco memindahkan peralatan, perabotan, hingga barang-barang kecil dari bangunan tersebut ke dalam minivan. Sekelompok pria terlihat di atap gedung konsulat melihat sekeliling, beberapa bagian mengenakan sarung tangan karet.
Penutupan yang diperintahkan oleh pemerintahan Donald Trump merupakan tindakan terbaru antara kedua negara yang tengah bersitegang. Aksi ini membantu menjerumuskan hubungan kedua negara dalam sebuah perang dingin lebih dalam lagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Otoritas AS Selidiki Bisnis Trump di Rusia |
Departemen Luar Negeri AS menyatakan Pemerintah Rusia telah mematuhi perintah untuk menghentikan operasi tersebut pada hari Sabtu, (2/9) dan mengatakan tidak ada diplomat yang dikeluarkan akibat penutupan tersebut.
"Rusia tidak lagi diizinkan menggunakan fasilitas ini untuk tujuan diplomatik atau konsuler," tegas pejabat departemen tersebut.
Juli lalu, Kremlin memerintahkan AS untuk memangkas jumlah staf diplomatik dan tekniknya di Rusia sampai setengahnya atau menjadi 455 orang. Pemangkasan ditujukan untuk menyamakan jumlah diplomat Rusia yang berada di AS.
Gambar yang diposkan di media sosial pada hari Jumat, (1/9), menunjukkan asap hitam mengepul dari cerobong asap konsulat pada hari terpanas dalam sejarah yang tercatat di San Francisco. Asap tersebut memicu spekulasi bahwa staf diplomatik di dalam konsulat membakar dokumen sensitif.
Maria Zakharova, juru bicara kementerian luar negeri Rusia mengatakan, kebakaran tersebut merupakan bagian dari 'mothballing'. (sha/bir)