"Kekuatannya 10 atau 20 kali atau bahkan lebih banyak dari yang sebelumnya. Skala itu sampai pada tingkat di mana ada yang bisa mengatakan tes bom hidrogen," terang Kune Y Suh, seorang profesor teknik nuklir di Seoul National University.
Pejabat Amerika Serikat yang mempelajari militer dan politik Korea Utara mengatakan bahwa data seismik tentang getaran sedang dianalisis, walaupun lokasinya menyebut akan ada uji coba nuklir lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan bom hidrogen oleh kantor berita KCNA Korea Utara muncul di tengah ketegangan regional yang meningkat menyusul dua uji coba Pyongyang terhadap rudal balistik antarbenua (ICBM) pada Juli lalu yang berpotensi terbang sekitar 10.000 km.
Sirene Menyala
Saksi di kota Yanji di China, di perbatasan dengan Korea Utara mengatakan, mereka merasakan getaran yang berlangsung sekitar 10 detik, diikuti oleh gempa susulan. China menjelaskan telah mendeteksi gempa berkekuatan 4,6 skala Richter dengan koordinat yang hampir sama delapan menit setelahnya.
"Saya sedang makan siang di perbatasan di Yanji, saat kami merasakan seluruh bangunan bergoyang. Itu berlangsung sekitar lima detik. Sirene serangan udara kota mulai berbunyi," kata Michael Spavor, Direktur Pertukaran Budaya Paektu.
"Misi Korea Utara cukup jelas ketika sampai pada tes atom terbaru ini, untuk mengembangkan persenjataan nuklir yang bisa menyerang seluruh wilayah Asia dan tanah air AS," Harry Kazianis, Direktur Studi Pertahanan di Pusat Konservatif Kepentingan Nasional di Washington.
Lihat juga:Kim Jong-un Periksa Hulu Ledak Bom Hidrogen |
Gempa yang dipicu oleh uji coba nuklir Korea Utara telah meningkat secara bertahap. Setelah uji coba nuklir kelima pada September lalu, Survei Geologi AS (USGS) mengukur besarnya 5,3 Ritcher. Pemantau Korea Selatan mengatakan ledakan tersebut menyebabkan gempa berkekuatan 5 skala Richter.