Irak Tangkap 1.400 Istri dan Anak-anak Militan ISIS

Reuters , CNN Indonesia | Senin, 11/09/2017 05:02 WIB
Irak Tangkap 1.400 Istri dan Anak-anak Militan ISIS Pihak berwenang Irak menahan setidaknya 1.400 orang istri dan anak-anak yang dicurigai bagian dari ISIS. (Laudy Gracivia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pihak berwenang Irak menahan setidaknya 1.400 orang istri dan anak-anak yang dicurigai bagian dari ISIS.

Sebagian besar berasal dari Turki. Sedangkan lainnya banyak yang berasal dari negara bekas Soviet, seperti Tajikistan, Azerbaijan, dan Rusia. Beberapa di antaranya adalah orang Asia, Perancis dan Jerman yang jumlahnya sangat sedikit.

Istri-istri dan anak-anak ini ditahan di sebuah di kamp Irak di selatan Mosul. Sebagian besar sudah sampai sejak 30 Agustus, saat pasukan Irak menendang ISIS keluar dari Mosul.

Mengutip Reuters, seorang petugas masih memverifikasi kewarganegaraan istri-istri dengan negara asalnya karena banyak yang sudah tak punya dokumen asli.

"Kami menahan keluarga Daesh di bawah langkah keamanan yang ketat. Kami menunggu perintah untuk menghadapi mereka," kata Kolonel Angkatan Darat Ahmed al-Taie dari pasukan operasi Nineveh Mosul.


"Kami memperlakukan mereka dengan baik, mereka adalah keluarga dari kriminal tangguh yang membunuh orang tak berdosa dengan darah dingin. Tapi saat kami menginterogasi mereka, kami menemukan bahwa kebanyakan mereka disesatkan oleh propaganda Daesh."

Salah seorang perempuan berkerudung yang asal Chenchnya mengungkapkan bahwa dia ingin kembali ke Perancis.

"Saya ingin kembali ke Perancis tapi tak tahu bagaimana caranya," katanya dalam bahasa Perancis.

Dia mengatakan bahwa dia tak tahu apa yang terjadi pada suaminya, yang sudah membawanya ke Irak saat suaminya bergabung dengan ISIS.


Seorang pejabat kementerian dalam negeri Irak mengungkapkan ingin bernegosiasi dengan kedutaan untuk mengembalikan perempuan dan anak-anak itu ke negara mereka masing-masing. "Kami tak bisa menyimpan orang sebanyak ini dalam tahanan di waktu yang lama."

Letnan Kolonel Salah Kareem mengungkapkan setidaknya sudah ada kedutaan 13 negara yang dihubunginya terkait hal ini.