Puluhan polisi dilaporkan terlihat menggiring para pedemo dari sebuah lapangan ke dalam mobil tahanan. Koresponden AFP melaporkan hampir 100 orang ditangkap polisi akibat demonstrasi tanpa izin tersebut.
"Saudara kami ditahan! Mengapa Muslim selalu disalahkan, mengapa mereka menahan kami?" teriak seorang pengunjuk rasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Myanmar terus menjadi perhatian internasional sejak bentrokan antara pasukan keamanan dan Muslim Rohingya kembali pecah di negara bagian Rakhine pada akhir Agustus lalu.
Pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan sedikitnya 1.000 orang, terutama etnis Rohingya, tewas dalam serangkaian kekerasan itu. Di saat yang sama, 300 ribu lainnya melarikan diri keluar Myanmar untuk menghindari serbuan militer.
Pada pekan lalu, ribuan warga Chechnya juga ikut menggelar demonstrasi memprotes kekerasan terhadap Rohingya. Pemimpin Chechnya, Ramzan Kadyrov, bahkan meminta Presiden Rusia Vladimir Putin turun tangan menghentikan pertumpahan darah di Rakhine.
Selama ini Rusia tak banyak merespons konflik kemanusiaan di Myanmar. Moskow diketahui adalah sekutu dekat Naypyidaw yang telah saling menyepakati kerja sama militer pada tahun lalu.
Sejauh ini, Rusia juga telah mengekspor sejumlah pesawat militer dan persenjataan lain ke Myanmar.
Meski begitu, Presiden Putin mengatakan negaranya "menentang segala bentuk kekerasan yang terjadi" saat ditanyai tanggapannya mengenai pendirian Rusia dan konflik kemanusiaan di Myanmar tersebut.