logo CNN Indonesia

China Minta Prancis Ikut Mengurangi Ketegangan Korea Utara

, CNN Indonesia
China Minta Prancis Ikut Mengurangi Ketegangan Korea Utara
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden China Xi Jinping meminta Prancis membantu meringankan situasi di Korea Utara. Hal itu disampaikan dalam sebuah pembicaraan melalui telepon antara Xi dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, beberapa hari setelah uji coba nuklir terbesar Pyongyang.

Permintaan itu disampaikan satu hari setelah China mendukung sanksi yang lebih kuat terhadap Pyongyang dan "tindakan yang diperlukan" di Dewan Keamanan PBB. China dan Prancis adalah pemegang veto.

"China berharap bahwa Prancis, sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, memainkan peran konstruktif dalam meringankan situasi dan memulai kembali dialog di Korea Utara,” kata Xi, dikutip dari AFP.

Korea Utara memicu peringatan global pada Minggu lalu dengan ledakan nuklirnya yang paling kuat sampai saat ini. Negara itu mengklaim berhasil menguji sebuah bom hidrogen.

Xi menginginksn "denuklirisasi Semenanjung Korea," yang juga telah disampaikan saat berbicara dengan Kanselir Jerman Angela Merkel beberapa jam sebelumnya.

Macron mengatakan kepada Xi, Prancis bersedia memperkuat kerja sama dengan China untuk mempromosikan penyelesaian yang tepat dari masalah nuklir tersebut.

“Macron mengulangi kecaman masyarakat internasional atas provokasi Korea Utara," kata kantor presiden Prancis kepada AFP.

"Provokasi ini meminta masyarakat internasional untuk menempatkan tekanan baru agar Pyongyang kembali ke perundingan dan menghindari eskalasi berbahaya," katanya.

Pada Kamis lalu, Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan, negaranya setuju bahwa Dewan Keamanan PBB harus menanggapi lebih lanjut dengan mengambil tindakan yang diperlukan.

China Minta Prancis Ikut Mengurangi Ketegangan Korea UtaraKorea Utara sebelumnya melakukan uji coba nuklir terbesar. (KCNA via REUTERS)
Sebelumnya, juru bicara Merkel Steffen Seibert mengatakan, pemimpin Jerman dan Xi sepakat untuk mendukung sanksi yang lebih keras terhadap Korea Utara.

China, yang merupakan sekutu terbesar di Korea Utara dan menyumbang 90 persen dari perdagangannya, dipandang sebagai kunci meyakinkan Pyongyang untuk meninggalkan program senjatanya.

Rusia, Inggris dan Amerika Serikat adalah anggota permanen tetap lainnya dari dewan keamanan PBB.

Xi juga berbicara dengan Presiden AS Donald Trump melalui telepon pada Rabu lalu. Dia mengatakan, China tetap teguh dalam keinginannya untuk menyelesaikan situasi tersebut melalui pembicaraan yang mengarah pada penyelesaian damai.

AS telah menuduh Korea Utara "mengemis untuk perang" dan mendorong "tindakan terkuat" yang mungkin dilakukan terhadap Pyongyang.

Presiden Rusia Vladimir Putin, yang berbicara dengan Xi di China timur selama KTT BRICS awal pekan ini, berulang kali menegaskan bahwa tekanan ekonomi lebih lanjut terhadap Pyongyang tidak akan berjalan baik.

Beijing marah dengan penyebaran sistem rudal Thaad dari Seoul dan Washington di Korea Selatan, yang oleh sekutu-sekutunya mengatakan untuk mempertahankan diri dari ancaman Korea Utara.

Empat peluncur yang tersisa dikerahkan pada Kamis. Presiden Korea Selatan Moon Jae-in mengatakan, instalasi tersebut merupakan keputusan yang tak terelakkan untuk melindungi negaranya dari provokasi Pyongyang.

"Sementara teknologi nuklir dan rudal Korea Utara terus maju, kami tidak punya pilihan selain meningkatkan kemampuan pertahanan sampai tingkat maksimum," katanya.

Namun, Moon mengatakan bahwa penyebaran penuh perisai rudal AS di Korea Selatan bersifat "sementara".

0 Komentar
Terpopuler
CNN Video