Al-Qaidah sempat menjadi kelompok militan yang mempunyai pengaruh terbesar di kawasan tersebut. Hal itu berlangsung lama, setidaknya hingga ISIS, dan pasukannya yang lebih sadis, mulai berkembang dari embrio yang sama dan menepikan saudara tuanya itu, sejak 2014 lalu.
ISIS sempat menguasai wilayah yang besar di Suriah dan Irak dan hal itu, selain membuat pengaruh al-Qaidah melemah, juga membuat para militannya tergoda untuk membelot ke kelompok teror baru. Al-Qaidah secara formal tidak mau mendukung ISIS karena kelompok itu dinilai terlalu sadis, bahkan bagi para militan yang diyakini membunuh 3.000-an orang dalam serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dampaknya, ISIS mulai memulangkan para pejuang teroris asing atau foreign terrorist fighters (FTF) yang mendukungnya ke negara asal untuk menyebarkan pengaruhnya ke seluruh dunia. Selain itu, mereka juga menyerukan kepada para simpatisan di luar negeri untuk melaksanakan aksi teror di negara masing-masing.
Salah satunya adalah militan Maute di Filipina yang setelah tiga bulan ini masih menguasai Marawi. Aksi kelompok yang berbaiat kepada ISIS itu dikhawatirkan bisa menjadi cikal bakal pembentukan wilayah kekuasaan baru di Asia Tenggara. Kekhawatiran yang sama sempat terjadi di Indonesia saat Santoso dan kelompok Mujahidin Indonesia Timur bersarang di Poso, Sulawesi Tengah.
Meski ISIS belum memberikan pernyataan menantang yang sama, Center for Strategic and International Studies (CSIS) khawatir ancaman yang sama bisa datang dari militan yang lebih sadis itu.
[Gambas:Video CNN]
"Ada kekhawatiran bahwa kekerasan ini akan menarik kekuatan dari luar. Kini, saat ribuan foreign fighters terafiliasi ISIS yang berpengalaman perang mencari misi baru di luar wilayah mereka yang terus menciut di Suriah dan Irak, kesempatan baru untuk membela Muslim [di Myanmar] akan menarik mereka," kata Thomas Sanderson, direktur Transnational Threats Project di CSIS.
Dia menjelaskan, di Mindanao, Filipina, lebih dari 80 FTF datang dari Chechnya, Maroko, Arab Saudi, Yaman dan Indonesia untuk mendukung teroris lokal seperti Abu Sayyaf. Hal tersebut, menunjukkan bahwa kemungkinan yang sama bisa terjadi di Myanmar.
Belum lagi, populasi Rohingya yang terdiri dari 45 persen anak muda berpotensi untuk diradikalisasi. "Bocah-bocah dan lelaki muda ini, tidak mempunyai kewarganegaraan dan diincar pasukan pemerintah, bisa jadi mencoba untuk berperan sebagai pahlawan."