Meski belum secara langsung merujuk pada peluncuran rudal yang dilaksanakan Jumat (15/9), surat kabar Rodong Sinmun, sebagaimana dikutip CNN, menyatakan "seberapapun kuat tekanan yang diberikan, itu tidak berlaku untuk kami."
Jepang dan Amerika Serikat bakal berupaya untuk meningkatkan tekanan itu di Perserikatan Bangsa-Bangsa hari ini, di mana kedua pemerintahan meminta segera diadakan pertemuan Dewan Keamanan sore waktu setempat, menjelang Sidang Umum pekan depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peristiwa ini menyusul pernyataan Korea Utara melalui media pemerintah, KCNA, yang mengancam "keempat pulau di kepulauan (Jepang) mesti ditenggelamkan ke lautan oleh bom nuklir Juche," merujuk pada ideologi Korut.
Peluncuran itu juga tampaknya dilakukan untuk mengirim pesan kepada Amerika Serikat. Korut menerbangkan senjata tersebut sejauh 3.700 kilometer, sama dengan jarak dari Pyongyang ke Guam.
Ancaman Korut untuk menenggelamkan Jepang dilontarkan setelah DK PBB kembali menjatuhkan sanksi yang membatasi impor minyak dan melarang ekspor tekstil Korut, pemasukan kedua negara tersebut.
[Gambas:Video CNN]
Sanksi itu dipicu oleh uji coba nuklir untuk keenam kalinya yang dilakukan Korut pada 3 September dan disebut sebagai bom hidrogen. Uji coba itu mengakibatkan gempa 6,3 skala richter, membuatnya jadi senjata paling kuat yang pernah dites Pyongyang.
Akibatnya, Korea Selatan pun mulai mendiskusikan kemungkinan untuk membuat senjata nuklir sendiri. Namun, Presiden Moon Jae-in menyatakan hal tersebut tidak diperlukan karena bisa berujung pada perlombaan senjata di timur laut Asia.
"Provokasi berkelanjutan ini hanya akan memperdalam isolasi diplomatik dan ekonomi Korea Utara," kata Tillerson.
(aal/aal)