Hal tersebut diungkapkan Retno usai mendengar paparan delegasi Myanmar terkait perkembangan krisis Rakhine dalam pertemuan informal antar-menlu ASEAN di sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat.
"Yang terbaru dari Myanmar itu tanggal 28 September nanti, menurut rencana, mereka akan membuka diplomatic visit (kunjungan diplomatik) ke wilayah-wilayah terdampak krisis. Itu dibuka bagi seluruh dubes asing yang ada di Yangoon," ucap Retno melalui video yang diterima CNNIndonesia.com, Senin (25/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski akses bantuan kemanusiaan telah berangsur-angsur dibuka oleh pemerintah Myanmar, sejumlah organisasi internasional dan perwakilan asing mengaku masih kesulitan menjangkau daerah pusat konflik seperti Rakhine.
Kunjungan diplomatik ini diharapkan bisa membuat pemerintah Myanmar semakin terbuka dalam penyelesaian krisis kemanusiaan di negara bagian tersebut.
"Dan kita akan tunggu hasil diplomatic visit tersebut seperti apa," kata Retno.
Menlu Retno Marsudi menyebut Myanmar membuka akses diplomatik ke Rakhine. (Dok. Kementerian Luar Negeri) |
Di sisi lain, delegasi Myanmar memaparkan perkembangan situasi di Rakhine termasuk pendistribusian sejumlah bantuan yang telah dikirimkan beberapa negara dan organisasi internasional.
"Ini merupakan satu hal yang cukup luar biasa karena dalam pertemuan informal ASEAN biasanya kami tidak menghasilkan output apa-apa. Tapi karena ada situasi khusus, kami sepakat keluarkan chairman statement mengenai krisis di Rakhine," ujar Retno.
Meski begitu, dalam pernyataan tersebut, ASEAN tidak menyebut langsung etnis Rohingya sebagai yang paling terdampak krisis.
Dalam pernyataannya, ASEAN hanya mengungkapkan "kecaman terhadap segala bentuk kekerasan di Rakhine yang telah menyebabkan banyaknya korban berjatuhan dan lonjakan pengungsi dalam jumlah yang besar."
Menlu Retno Marsudi menyebut Myanmar membuka akses diplomatik ke Rakhine. (Dok. Kementerian Luar Negeri)