Kabur ke Luar Negeri, Yingluck eks PM Thailand Tetap Divonis

Reuters , CNN Indonesia | Rabu, 27/09/2017 13:41 WIB
Kabur ke Luar Negeri, Yingluck eks PM Thailand Tetap Divonis Eks PM Thailand Yingluck Shinawatra divonis pengadilan terkait dugaan korupsi yang menjeratnya. (Reuters/Chaiwat Subprasom)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mahkamah Agung Thailand dijadwalkan menjatuhkan putusan atas kasus korupsi yang menjerat bekas Perdana Menteri Yingluck Shinawatra hari ini, Rabu (27), meski terdakwa telah melarikan diri ke luar negeri bulan lalu.

Yingluck yang digulingkan dalam kudeta 2014 bisa divonis 10 tahun penjara jika terbukti melakukan kelalaian dalam skema subsidi beras yang membantunya memenangi pemilihan umum 2011 lalu.

Dia telah mengaku tidak bersalah dan menuding pemerintahan militer melakukan persekusi politik terhadapnya.

Perseteruan antara para elite tradisional Thailand, termasuk militer, kelompok kelas atas Bangkok dan keluarga Shinawatra telah mendominasi politik negara tersebut selama lebih dari satu dekade. Kakak Yingluck, bekas Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, bernasib sama dan digulingkan pada kudeta 2006.

Keluarga Shinawatra mempunyai dukungan besar di daerah-daerah pedesaan sehingga berhasil memenangkan setiap pemilu sejak 2001 lalu. Namun, lawan-lawannya menuding mereka terlibat dalam korupsi dan nepotisme.

Melalui skema yang dipermasalahkan, pemerintahan Yingluck membeli beras dari petani dengan harga di atas pasar, berujung pada penumpukan dan mengganggu harga komoditas dunia. Pemerintah menyatakan kerugian akibat program tersebut mencapai $8 miliar.
Meski polisi mengatakan tidak ada gangguan keamanan, sebanyak 300 petugas dikerahkan di pengadilan. Wartawan Reuters melaporkan hanya ada sekitar pendukung 50 pendukung Yingluck di lokasi.

Jumlah itu jauh lebih sedikit ketimbang demonstrasi pada 25 Agustus, saat pengadilan sedianya dijadwalkan untuk menjatuhkan vonis. Rencana itu tertunda karena Yingluck terlebih dulu kabur ke luar negeri.

"Tidak masalah kalau Yingluck tidak hadir di pengadilan hari ini. Saya akan terus datang mendukungnya karena saya mencintai dia," kata Thuanphit Srichan (60), pensiunan dari provinsi Pathum Thani, utara Bangkok.

Meski keberadaannya masih belum diungkap oleh para pendamping maupun pemerintah junta, Reuters melaporkan pada bulan lalu bahwa ia sudah melarikan diri ke Dubai, di mana Thaksin tinggal mengasing untuk menghindari vonis penjara terkait korupsi.
Pemimpin junta militer, Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha, mengatakan ia sudah mengetahui keberadaan Yingluck tapi tidak akan mengungkapnya hingga vonis dibacakan.

Pengacara Yingluck, Sommai Koosap, mengatakan kepada Reuters di luar pengadilan bahwa ia belum berkomunikasi dengan kliennya sejak pergi dari Thailand.

"Kami sudah mencoba yang terbaik. Kami telah berjuang secara hukum ... hasilnya sekarang terserah pengadilan," ujarnya.