"Negara-negara yang saat ini masih menyalurkan senjata bagi militer Myanmar harus menangguhkan aktivitas ini sampai ada tindakan pertanggung jawaban yang memadai," tutur Haley dalam rapat Dewan Keamanan PBB, Kamis (28/9).
Diperkirakan setidaknya 1.000 orang tewas akibat "aksi pembersihan etnis" brutal dan sistematis yang masih terjadi di Rakhine. Sementara itu, jumlah pengungsi yang melarikan diri ke luar negeri telah melampaui 500 ribu orang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini pertama kalinya AS menyerukan tindakan tegas terhadap Myanmar yang diduga telah membiarkan persekusi terhadap minoritas Rohingya terus terjadi. AS bahkan mendesak seluruh pihak yang diduga terlibat memperburuk krisis kemanusiaan untuk ditindak secara hukum.
"Militer Myanmar harus menghormati HAM dan kebebasan fundamental. Mereka yang telah terlibat melakukan pelanggaran harus segera dicopot dari jabatannya dan segera diadili," papar Haley seperti dikutip Reuters.
Lihat juga:PBB: Krisis Rohingya Mimpi Buruk HAM |
Aparat Myanmar dituding melakukan pelanggaran HAM berat dan membantai etnis minoritas yang tidak diakui status kewarganegaraannya itu.
Pengungsi Rohingya. (Reuters/Danish Siddiqui) |
Selama ini, Myanmar berkeras membantah seluruh tudingan dan berdalih turut mengecam segala bentuk pelanggaran HAM yang terjadi di sana.
Tun bahkan mengatakan Myanmar telah mengundang Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres untuk berkunjung ke Rakhine. Sementara itu, seorang pejabat PBB menuturkan Guterres akan mempertimbangkan lawatan ini dalam kondisi yang tepat.
(aal)
Pengungsi Rohingya. (Reuters/Danish Siddiqui)