'Rekonsiliasi Bikin Perdamaian dengan Israel Sulit Dicapai'

Oscar Ferry , CNN Indonesia | Jumat, 13/10/2017 04:00 WIB
'Rekonsiliasi Bikin Perdamaian dengan Israel Sulit Dicapai'
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, bahwa rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah hanya akan membuat perdamaian dengan Israel jadih lebih sulit dicapai. Netanyahu mengatakan itu selang beberapa jam setelah kedua faksi di Palestina menandatangani kesepakatan persatuan di Kairo, Mesir, Kamis (12/10).

"Rekonsiliasi antara Fatah dan Hamas membuat perdamaian (dengan Israel) jauh lebih sulit dicapai," kata Netanyahu di laman Facebook kantornya seperti dikutip AFP, Jumat (13/10).

Dia menyayangkan sikap Hamas yang setuju bersepakat dengan Hamas. Sebab dia menuduh Hamas sebagai gerakan Islam yang mendukung kekerasan.


Netanyahu juga menyebut, kesepakatan Hamas dan Fatah juga bukan sebuah solusi dari masalah selama ini terjadi di Palestina,

"Rekonsiliasi (Fatah) dengan pembunuh massal (Hamas) adalah bagian dari masalah, bukan bagian dari solusi. Katakan ya untuk perdamaian dan tidak untuk bergabung dengan Hamas," katanya setelah kesepakatan persatuan yang ditandatangani di Kairo.

Sementara itu, dilansir Reuters, Netanyahu mengatakan kesepakatan rekonsiliasi di Palestina harus mematuhi kesepakatan internasional dan persyaratan yang ditetapkan oleh Kuartet Timur Tengah. Selain itu, dia juga meminta agar hasil rekonsiliasi itu harus mengakui keberadaan Israel dan pelucutan senjata Hamas.


"Israel akan memeriksa perkembangan di lapangan dan bertindak sesuai," kata sebuah pernyataan resmi dari kantor Netanyahu.

Adapun faksi-faksi Palestina yang bertikai sejak satu dekade terakhir itu menandatangani kesepakatan pada hari Kamis (12/10) untuk mengakhiri perpecahan setelah perundingan yang dimediasi oleh Mesir di Kairo. Hamas dan Fatah sudah melakukan perundingan di sejak Selasa (10/10).

Mesir sudah berulang kali menjadi penengah untuk mendamaikan kedua faksi ini guna membentuk pemerintahan bersatu di Gaza dan Tepi Barat.


Bulan lalu pun kelompok Hamas, yang dianggap sebagai kelompok teroris oleh Barat dan Israel, setuju untuk menyerahkan kekuasaan di Gaza pada Pemerintahan Otoritas Palestina yang dipimpin Mahmoud Abbas dan didukung Fatah.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, Otoritas Palestina yang berbasis di Tepi Barat akan melanjutkan kontrol penuh atas Jalur Gaza yang dikuasai Hamas pada 1 Desember.