Hamas-Fatah: Jejak Perang Saudara Satu Dekade Sebelum Damai

Oscar Ferry , CNN Indonesia | Jumat, 13/10/2017 05:30 WIB
Hamas-Fatah: Jejak Perang Saudara Satu Dekade Sebelum Damai
Jakarta, CNN Indonesia -- Dua kelompok Palestina, Hamas dan Fatah akhirnya sepakat berdamai untuk menuju pemerintahan Palestina bersatu. Kesepakatan rekonsiliasi itu dicapai di Kairo, Ibu Kota Mesir, Kamis (12/10).

Kesepakatan yang dicapai ini disambut baik kedua kubu. Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas pun merespons baik rekonsiliasi panjang setelah sebelum-sebelumnya gagal sepakat.

Dikutip AFP, Jumat (13/10), salah seorang pemimpin senior Fatah di Jalur Gaza Zakaria al-Agha mengatakan, kesepakatan itu akan mengakhiri konflik kedua pihak yang selama ini terjadi.


"Semua tindakan yang dilakukan baru-baru ini akan membuat semuanya segera berakhir," kata Zakaria kepada AFP.

Kedua belah pihak telah bertemu di Kairo pekan ini dengan tujuan untuk mengakhiri konflik selama satu dekade yang melelahkan. Pertemuan diawali dengan perundingan pada Selasa (10/10) dan berakhir dengan kesepakatan damai pada Kamis (12/10).

Sebuah sumber Mesir yang dekat dengan pembicaraan tersebut mengatakan bahwa kepala intelijen Khaled Fawzi turut mengikuti perundingan kedua pihak dengan seksama.

Sejarah Konflik

Jauh sebelum kesepakatan ini terjadi, Hamas dan Fatah tak pernah akur kurang lebih sepuluh tahun terakhir. Hamas merebut Gaza dari Fatah dalam sebuah perang saudara yang terjadi sekitar tahun 2007.


Sejak itu, kedua faksi terus berselisih. Beberapa upaya rekonsiliasi dilakukan kedua belah pihak, terutama dengan Mesir yang menjadi mediatornya. Namun semuanya berujung kegagalan.

Selama konflik Hamas dan Fatah terjadi, Mesir juga meningkatkan keamanan di Semenanjung Sinai yang berbatasan dengan Gaza, tempat pemberontak jihad melakukan perlawanannya.

Konflik Hamas-Fatah kerap disebut juga sebagai Perang Saudara Palestina. Sebelum 2007, kedua faksi sudah terlibat ketegangan pada 2006 dan 2005.
Hamas-Fatah: Jejak Perang Saudara Satu Dekade Sebelum DamaiFoto: AFP PHOTO / SAID KHATIB
Ketegangan antara Hamas dan Fatah mulai meningkat pada 2005 setelah kematian pemimpin lama Palestina Yasser Arafat yang meninggal pada 11 November 2004. Ketegangan Hamas dan Fatah kembali intensif setelah Hamas memenangkan pemilihan umum 2006.


Perang keduanya pecah pada 2007. Mayoritas peperangan terjadi di Jalur Gaza, dimana kemudian Hamas menguasai kawasan tersebut.

Hamas dan Fatah memang berbeda pandangan dalam menyikapi perlawanan terhadap Israel. Beberapa kali gap antara Hamas dan Fatah terlihat. Misalnya Fatah menolak perlawanan bersenjata terhadap Israel yang bertolak belakang dengan Hamas yang kerap melepaskan roket dan misil ketika perang melawan Israel.

Fatah juga masuk dalam kompromi terkait masalah Al-Quds. Bahkan Fatah kerap mendorong Mesir agak membawa pasukan militernya masuk ke Jalur Gaza. Fatah juga menghabisi gerakan Hamas di Tepi Barat, mempromosikan kerjasama keamanan dengan Israel, mendapatkan dana dari UE dan sebagian negara Arab.

Di satu sisi, Hamas berpegang teguh pandangannya selama ini. Hamas memegang keyakinan terhadap semua wilayah di Palestina dalam satu keutuhan dan menolak mengakui keberadaan Israel. Untuk itu, Hamas memilih caranya sendiri, yakni mengangkat senjata dan berperang melawan Israel demi keutuhan kesatuan wilayah Palestina.