Duterte Tak Jadi Usir Duta Besar Eropa

AFP , CNN Indonesia | Jumat, 13/10/2017 15:15 WIB
Duterte Tak Jadi Usir Duta Besar Eropa Presiden Duterte dikecam dunia internasional karena menerapkan kebijakan keras dalam perang melawan narkoba. (AFP Photo/ Noel Celis)
Jakarta, CNN Indonesia -- Juru bicara presiden Filipina mengatakan ancaman Presiden Duterte mengusir para duta besar Eropa dicabut karena dibuat berdasarkan berita yang salah.

“Tidak ada perintah untuk mengusir mereka,” kata ernesto Abella, jubir Duterte, kepada wartawan pada Jumat (13/10).

Abella mengatakan kemarahan Duterte dipicu oleh laporan media tentang sejumlah anggota parlemen dan penasehat mereka yang pada Senin (9/10).

“Pada dasarnya dia (Duterte) bereaksi atas berita yang dibacanya,” kata Abella sambil menambahkan bahwa Presiden Duterte berasumsi berita itu benar.
“Ini pelajaran bagi kita semua bahwa perlu ada sikap kritis atas pelaporan dan saat membaca berita. Presiden bereaksi seperti layaknya seorang pemimpin ketika kedaultan negara dilanggar. Kami meminta media itu untuk membuat berita yang benar,”

Presiden Duterte mengeluarkan ancaman mengusir duta besar negara-negara Eropa dalam waktu 24 jam dalam pidato berapi-api Kamis (12/10) malam.

Duterte menuduh pemerintah negara Eropa itu berencana “mengucilkan” Manila dari PBB. Presiden Filipina ini tidak merinci bukti tuduhannya itu.
Setelah ancaman itu keluar, delegasi Uni Eropa di Filipina menjelaskan bahwa para anggota parlemen itu bukan bagian dari misi Uni Eropa.

Penjelasan ini bisia diterima oleh Abella.

Pernyataan resmi dan laporan media besar Filipina menyebutkan bahwa para anggota parlemen Uni Eropa yang sedang berkunjung itu tidak mengungkapkan kemungkinan Filipina dikeluarkan dari PBB.
[Gambas:Video CNN]
Abella tidak menjelaskan bagaimana Duterte bisa beranggapan bahwa para anggota parlemen Eropa itu berusaha mengeluarkan Filipina dari PBB.

Ketika ditanya apakah pemerintah Filipina telah mengklarifikasi pernyataan keras Duterte itu ke misi Uni Eropa di Manila, Abella mengatakan: “Menurut saya semua jalan yang ada sudah dimanfaatkan untuk menjelaskan hal ini.”

Seorang staf media delegasi Uni Eropa di Filipina mengatakan kepada AFP bahwa tidak ada penjelasan resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah Duterte.
Duterte memenangkan pemilu tahun lalu setelah berjanji akan menghilangkan perdagangan narkoba dalam waktu enam bulan dan menyatakan akan ada 100 ribu orang yang tewas dalam proses ini.

Sejak itu polisi melaporkan telah menewaskan 3,850 orang dalam operasi antinarkoba sementara ribuan warga lain tewas tanpa diketahui pelaku dan penyebabnya. (yns)