Duterte Ancam Bentuk Pemerintahan Revolusioner

AFP , CNN Indonesia | Sabtu, 14/10/2017 16:57 WIB
Duterte Ancam Bentuk Pemerintahan Revolusioner Rodrigo Duterte berjanji akan melawan balik lawan-lawan politik yang coba mengacaukan pemerintahannya. (REUTERS/Erik De Castro)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengingatkan lawan-lawan politiknya bahwa dia siap untuk membangun "pemerintahan yang revolusioner".

Ucapan ini disampaikan pada Jumat (13/10) malam dalam upaya melawan media dan para pengkritik kebijakannya soal perang atas peredaran narkoba.

Di bawah kepemimpinan Duterte, para penegak hukum diizinkan untuk menembak mati pengedar narkoba, menyebabkan lebih dari tiga ribu tewas tanpa lewat proses peradilan.

Kebijakan Duterte itu membuatnya dikritik oleh kelompok pembela hak asasi manusia.

Duterte menegaskan, dia akan mendirikan pemerintahan yang revolusioner jika para penentang serta kelompok komunis coba untuk mendestabilisasi pemerintahannya.

"Jika langkah-langkah destablisasi Anda terwujud dan timbul kekacauan, saya takkan ragu untuk mendeklarasikan pemerintahan revolusioner hingga akhir masa jabatan saya, dan saya akan menangkap Anda semua sehingga kami bisa berperang penuh melawan kelompok merah," kata Duterte.

Duterte sendiri merujuk kepemimpinan Corazon Aquino yang juga menetapkan pemerintahan revolusioner setelah memimpin pergerakan yang mengakhiri kediktatoran Ferdinand Marcos pada 1986.

Aquino memecat seluruh pejabat terpilih, menghapuskan Kongres, dan menulis ulang undang-undang dasar negara lewat komite yang ia pilih.

Undang-undang itu kemudian menjadi pembuka jalan lahirnya pemilihan umum dan Aquino hingga saat ini dikenang masyarakat Filipina sebagai pahlawan demokrasi.

Dalam undang-undang dasar yang baru, masa jabatan presiden Filipina dibatasi menjadi hanya satu kali selama enam tahun.

Para pengkritik Duterte cemas jika pria 72 tahun itu akan membawa Filipina kembali ke masa-masa kediktatoran sehingga punya lebih banyak kebebasan dalam perang narkobanya.

Duterte terpilih jadi presiden tahun lalu berkat janji kampanye untuk menghapuskan peredaran obat terlarang di masyarakat dengan membunuh 100 ribu pengedar.

Sejak saat ia terpilih 15 bulan lalu, polisi dilaporkan telah membunuh 3850 orang dalam operasi anti-narkoba, sementara kematian ribuan lainnya tidak bisa dijelaskan.

Meski demikian, sebagian masyarakat Filipina terus mendukung Duterte karena menganggapnya sebagai pahlawan dalam pemberantasan korupsi dan kejahatan.