Dua Pemimpin ISIS Marawi Tewas, Seorang Lagi Misterius

Rinaldy Sofwan , CNN Indonesia | Senin, 16/10/2017 12:25 WIB
Dua Pemimpin ISIS Marawi Tewas, Seorang Lagi Misterius Ilustrasi pertempuran di Marawi. (Reuters/Jorge Silva)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah mengonfirmasi kematian dua pemimpin ISIS yang menyerang Marawi, otoritas Filipina masih belum mengetahui pasti status Abdullah Maute, seorang pentolan lainnya yang masih misterius.

Kematian Abdullah Maute, saudara kandung dari Omar Maute, salah satu pemimpin yang tewas pada Senin pagi (16/10), telah berulang kali dikabarkan di masa lalu.

Namun, kabar itu tak pernah terkonfirmasi. Terakhir, ia dikabarkan tewas di awal September dan pihak militer belum bisa memastikan kebenarannya.

Dikutip CNN Philippines, Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana kali ini pun menyatakan belum ada laporan mengenai keberadaan Abdulah.

Sementara itu, Omar dan Isnilon Hapilon, salah seorang pemimpin militan lainnya, disebut tewas dalam baku tembak dan jenazahnya telah ditemukan.

Lorenzana juga menyatakan pihak militer tengah mengejar Dr Mahmoud Ahmad, seorang teroris asal Malaysia yang bergabung dengan kelompok Maute.
Kelompok Maute adalah militan yang menyerang Marawi pada 23 Mei lalu. Namanya diambil dari nama belakang Omar dan Abdullah yang secara langsung memimpin para teroris berbaiat ISIS tersebut.

Sementara itu, Isnilon Hapilon adalah pemimpin kelompok Abu Sayyaf yang juga terafiliasi dengan ISIS. Ia dinyatakan sebagai pemimpin kekhalifahan gadungan asal Timur Tengah itu di wilayah Asia Tenggara.

Krisis Marawi terjadi setelah Isnilon meminta bantuan militan Maute karena semakin terdesak dalam perburuan oleh pasukan Filipina.

Hingga akhir pekan lalu, pemerintah telah kehilangan 162 pasukan, sementara lebih dari 1.700 tentara lainnya mengalami luka-luka.
Pasukan pemerintah telah menewaskan 817 militan Maute sejak pertempuran pecah pada 23 Mei lalu di Marawi, Lanao del Sur, Mindanao.

Setidaknya 47 korban warga sipil jatuh akibat pertempuran ini.

Pengikut Hapilon dan Maute berbaiat kepada ISIS dan kelompok teror itu telah menyatakan mengakui Hapilon sebagai pemimpin di Asia Tenggara pada 2014 lalu.

Pihak militer meyakini ISIS berencana mendirikan kekhalifahan gadungan yang berpusat di Marawi.