Pemerkosaan Dituding Jadi Senjata Myanmar di Rohingya

Hanna Azarya Samosir , CNN Indonesia | Sabtu, 21/10/2017 21:08 WIB
Pemerkosaan Dituding Jadi Senjata Myanmar di Rohingya Ilustrasi pengungsi perempuan Rohingya. (Reuters/Mohammad Ponir Hossain)
Jakarta, CNN Indonesia -- Militer Myanmar dilaporkan menggunakan segala senjata untuk membersihkan etnis Rohingya. Tak hanya senapan, militer juga menggunakan modus pemerkosaan untuk membersihkan etnis minoritas Muslim itu.

"Militer Myanmar jelas menggunakan pemerkosaan sebagai salah satu metode mengerikan untuk membersihkan etnis Rohingya," ujar Skye Wheeler, peneliti pelanggaran seksual dari Human Rights Watch, kepada Reuters.

Wheeler mengetahui fakta mengerikan ini setelah mewawancarai ratusan ribu pengungsi Rohingya yang kabur dari kekerasan di Rakhine, Myanmar, sejak Agustus lalu.

"Pemerkosaan dan bentuk kekerasan seksual lainnya sudah meluas secara sistematis. Sangat brutal, menghina, dan traumatis," ucap Wheeler.


Myanmar terus menyangkal tuduhan pembersihan etnis ini. Namun, ribuan pengungsi di kamp-kamp pengungsian Bangladesh juga terus menuturkan kisah pedihnya, salah satunya Nurshida.

Gadis berusia 18 tahun itu sedang belajar di ruang kelas ketika sekelompok militer masuk ke sekolahnya di Rakhine bulan lalu.

Sambil menodongkan senjata, tentara tak berseragam itu menggiring 30 anak di dalam ruang kelas itu menuju auditorium utama sekolah.


Di sana, tentara itu memisahkan murid perempuan dan laki-laki. Di salah satu sudut aula itu, pemerkosaan pun tak terhindarkan. Nurshida menjadi korban pertamanya.

"Salah satu pria menjatuhkan saya ke lantai. Saya mulai berteriak, tapi salah satu tentara memukul wajah saya dan menelanjangi saya," kata Nurshida.

Nasib malang juga menimpa Parvin. Setelah para tentara memenggal kepala suaminya, Parvin diperkosa dalam keadaan hamil lima bulan.

"Mereka memukuli saya sampai tak sadarkan diri. Saya terbangun di sebuah desa tak berpenghuni dan keluarga ipar saya mencari saya. Saya akhirnya dibawa ke rumah mereka dalam keadaan telanjang bulat," tuturnya.

[Gambas:Video CNN]

Hal terakhir yang dapat dilakukan ibu mertua Parvin adalah membantunya membersihkan tubuhnya setelah diperkosa.

"Ia kemudian mengatakan tidak mau mengurus saya dan menolak saya," ucap Parvin terisak.

Kini, ia harus tinggal sendiri di sebuah rumah bambu. Dengan kondisi hamil tua, ia hidup dalam ketakutan akan pria.

"Saya tidak akan bisa menikah lagi setelah pemerkosaan itu. Saya tak punya pilihan selain membesarkan bayi saya sendiri. Hanya itu tujuan saya sekarang. Saya sudah kehilangan semuanya," kata Parvin.
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Duka Tanpa Akhir Rohingya