Bahrain Ancam Bekukan Keanggotaan Qatar di Dewan Negara Teluk

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Senin, 30/10/2017 14:47 WIB
Bahrain Ancam Bekukan Keanggotaan Qatar di Dewan Negara Teluk Menteri Luar Negeri Bahrain, Khalid bin Ahmed Al Khalifa, mengatakan bahwa penangguhan keanggotaan Qatar ini adalah satu-satunya cara menjaga keutuhan GCC. (AFP Photo/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bahrain mengancam akan membekukan keanggotaan Qatar dalam Dewan Kerja Sama Negara Teluk (GCC) jika negara itu tak mengubah pendiriannya dan memenuhi daftar tuntutan negara kawasan yang sejak 5 Mei lalu memutus hubungan diplomatik dengan Doha.

Menteri Luar Negeri Bahrain, Khalid bin Ahmed Al Khalifa, mengatakan bahwa penangguhan keanggotaan Qatar ini adalah satu-satunya cara menjaga keutuhan GCC.

"Langkah tepat untuk melestarikan GCC adalah membekukan keanggotaan Qatar dalam organisasi tersebut, sampai negara itu mengubah pendiriannya dan merespons seluruh tuntutan kita. Kami [GCC] akan baik-baik saja dengan keluarnya Qatar dari organisasi tersebut," tutur Al Khalifah sebagaimana dikutip Al Arabiya, Senin (30/10).


Selain itu, Al Khalifah mengatakan Bahrain juga tak akan menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT) GCC selanjutnya jika Doha tak menjauhi Iran dan menghentikan dukungannya terhadap aktivitas terorisme, tudingan yang selama ini dibantah pemerintahan Emir Tamim bin Hamad Al Thani.
"Jika saat ini Qatar berpikir bisa mengulur-ulur waktu untuk menghindar sampai KTT berlangsung, mereka salah. Jika situasi tetap sama, kami tidak akan hadir dalam KTT tersebut," tuturnya.

"Bahrain tidak akan menghadiri KTT dan duduk bersama Qatar, yang hari demi hari terus mendekat ke Iran yang merupakan langkah berbahaya bagi keamanan negara GCC," kata Al Khalifah menambahkan.

Selain memutus hubungan diplomatik, Saudi dan sejumlah negara Teluk lainnya juga memblokade Qatar dengan memutus segala akses perhubungan ke negara itu.

Pada 22 Juni lalu, Saudi Cs mengajukan belasan tuntutan terhadap Qatar sebagai syarat jika ingin pengucilannya berakhir, salah satunya menghentikan dukungan terhadap kelompok Ikhwanul Muslimin serta organisasi teroris lain, hingga kewajibannya menutup kantor berita Al-Jazeera.
Dalam daftar itu, Doha juga dituntut mengurangi kedekatannya dengan Iran--yang selama ini menjadi rival Saudi di kawasan--serta menutup basis militer Turki di Qatar.

Namun, sejauh ini Qatar tidak pernah menggubris tuntutan tersebut dengan menganggap negaranya sebagai korban berita palsu.

Sementara itu, di tempat terpisah, Emir Thamim menuding Saudi dan sekutu-sekutunya tersebut hanya berupaya menggulingkan pemerintahanya.

[Gambas:Video CNN]

Thamim menganggap pendirian serta pengaruh negaranya--yang dinilai lebih demokrasi dari sejumlah negara Timur Tengah lainnya--menyebabkan Saudi Cs merasa terancam.

"Mereka ingin sebuah perubahan rezim, ini sangat jelas. Sejarah juga menunjukkan bahwa mereka pernah mencoba hal serupa pada 1996, saat ayah saya menjadi Emir. Mereka kembali memperjelas niatnya itu dalam beberapa minggu terakhir ini," kata Al Thani dalam wawancaranya bersama CBS seperti dikutip AFP.

"Mereka tidak suka kebebasan dan kemerdekaan kami. Mereka tidak suka cara berpikir dan visi kami untuk kawasan ini. kami ingin kebebasan untuk masyarakat di kawasan ini dan mereka [Saudi cs] tidak senang akan hal itu yang dianggap menjadi ancaman buat mereka," katanya. (has)