Dan dia disambut dengan baik: sambutan untuk Trump di Beijing, Rabu (8/11), lengkap dengan anak-anak sekolah yang mengibarkan bendera AS dan China, serta ucapan “aku cinta kamu” yang terlontar untuk orang nomor satu di Amerika itu.
Kedatangannya ke China jelas diwarnai ironi. Namun, hal ini sekaligus menggarisbawahi realitas geopolitik yang mesti dihadapi Trump sebagai presiden—dan bahwa dia belum melakukan langkah-langkah tegas yang selalu ia janjikan semasa kampanye dari satu tempat ke tempat lainnya, dulu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Trump belum menerapkan impor dengan nilai dua digit untuk tarif impor China. Tampaknya, dia sepenuhnya meninggalkan rencananya untuk melabeli China sebagai manipulator mata uang. Dan dia belum membalas kesewenang-wenangan China dalam berdagang, sebagaimana dia janjikan saat kampanye.
Alih-alih, pemerintahan Trump cenderung mengedepankan dialog dengan para pejabat China—terutama pembicaraan langsung dengan Presiden Xi Jinping—daripada pengerahan kekuatan besar yang didapatkan pengusaha properti itu setelah menjabat sebagai kepala negara.
Trump tampak terus tersenyum dan tertawa, menunjukkan keakraban dengan Xi dan menikmati penampilan yang disuguhkan. Saat jamuan teh, Trump dan Xi tampak semakin mesra menonton video cucu Trump bernyanyi dan membaca puisi kuno berbahasa China.
Presiden Xi Jinping. (REUTERS/Jason Lee) |
Publik China pun mempertanyakan keputusan pemerintah menggelar karpet merah bagi Trump, berbeda dengan Barack Obama yang turun dari tangga pesawat kepresidenan tanpa sambutan meriah ketika berkunjung ke Beijing pada September 2016.
Menurut Li, sambutan ini terlalu berlebihan bagi seorang presiden yang perilakunya sangat sulit ditebak, meski China memang sedang berupaya memperbaiki hubungan dengan AS di bawah pemerintahan Trump.
Mengamini opini Li, seorang ahli dari Harvard University China, Roderick MacFarquhar, pun memperingatkan Beijing agar lebih berhati-hati dalam menyambut Trump.
"Yang paling buruk mengenai dia, dan yang harusnya sangat mengkhawatirkan China, adalah bahwa saya saja tidak yakin Trump mengetahui apa yang akan dia lakukan dari hari ke hari," kata Farquhar kepada Guardian.
(aal)
Presiden Xi Jinping. (REUTERS/Jason Lee)