Xi Jinping Gelar Karpet Merah untuk Donald Trump

Hanna Azarya Samosir , CNN Indonesia | Kamis, 09/11/2017 11:54 WIB
Xi Jinping Gelar Karpet Merah untuk Donald Trump Xi Jinping dan Donald Trump berjalan melewati jajaran pasukan dan berhenti sejenak di hadapan band militer yang sedang memainkan lagu The Stars and Stripes Forever. (Reuters/Damir Sagolj)
Jakarta, CNN Indonesia -- China gegap gempita menyambut kedatangan Donald Trump pada Kamis (9/11). Presiden Xi Jinping bahkan menggelar karpet merah untuk sang pemimpin Amerika Serikat.

Tepat pukul 9.15, upacara penyambutan dimulai dengan marching band militer yang mengumandangkan lagu kebangsaan China dan Amerika. Sementara itu di Tiananmen Square, meriam ditembakkan ke udara.

Para pejabat berseragam hijau, putih, dan biru berjajar rapi menyambut kedua kepala negara dengan perekonomian tertinggi di dunia itu berjalan berdampingan di atas karpet merah menuju Balai Rakyat China.

Kedua pemimpin itu berjalan melewati jajaran pasukan dan berhenti sejenak di hadapan band militer yang sedang memainkan lagu The Stars and Stripes Forever.
Xi Jinping Gelar Karpet Merah untuk Donald TrumpDonald Trump dan Xi Jinping berhenti sejenak di hadapan band militer yang sedang memainkan lagu The Stars and Stripes Forever. (Reuters/Jonathan Ernst)

Media pemerintah China menyatakan bahwa upacara ini merupakan penyambutan tingkat tinggi dan sangat spesial yang dipersiapkan untuk Trump.

Upacara ini memang dianggap istimewa jika dibandingkan dengan Barack Obama yang turun dari tangga pesawat kepresidenan tanpa sambutan meriah ketika berkunjung ke Beijing pada 2016.

Sejumlah pengamat mengatakan, Trump dan Xi ingin menunjukkan gestur baik sebelum mereka membicarakan isu-isu panas, seperti perdagangan dan permasalahan ambisi rudal dan nuklir Korea Utara.

Selama ini, Trump mendesak China untuk menekan Korut dengan memutus hubungan dagang dengan Pyongyang. Namun, China sebagai sekutu terdekat Korut di kawasan enggan meninggalkan saudaranya itu.
Sebelumnya, China bahkan memprotes pengerahan sistem pertahanan rudal AS di Korsel yang dianggap justru dapat menyulut amarah pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong-un.

Dalam ranah perdagangan, AS dan China diperkirakan bakal meneken perjanjian perdagangan senilai miliaran dolar, meski kesepakatan itu kemungkinan besar tidak akan menutupi defisit kerja sama kedua negara yang mencapai US$347 miliar tahun lalu.

Semua isu tersebut akan dibahas dalam rapat tertutup di Balai Rakyat China, tempat pertemuan bersejarah yang sebelumnya dipakai untuk menggelar kongres lima tahunan partai berkuasa China pada Oktober lalu. (has)