Tentara Korut yang tidak disebut namanya itu melarikan diri saat kendaraan yang dia tumpangi bersama empat rekannya melewati “desa perdamaian”, zona demilitarisasi di perbatasan Korsel-Korut. Tujuh dari 40 peluru menembus tubuhnya.
“Hingga pagi ini, kami mendengar dia tidak sadar dan tak dapat bernafas, tapi nyawanya bisa diselamatkan,” kata Direktur Operasi Kepala Staf Gabungan Militer Korsel, Suh Wook, seperti dilansir Reuters, Selasa (14/11). Dia menggambarkan pelarian tentara Korut itu seperti adegan film.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Militer Korsel melaporkan pria yang belum teridentifikasi itu menderita luka di bagian organ dalam meski tidak mengancam keselamatannya. Namun, pihak rumah sakit memaparkan tentara tersebut kini masih harus menggunakan alat bantuan untuk bisa bernapas.
Sebagaimana dikutip ABC News, Lee Guk-jong, dokter yang menangani tentara itu menyatakan kondisi pasiennya "sangat kritis” dan membutuhkan waktu setidaknya 10 hari ke depan untuk menentukan apakah masa kritis bisa terlewati.
Sebelum 2017, hanya ada empat pebelot militer dari Korut dalam lima tahun, yaitu satu pada 2016, satu pada 2015, dan dua lainnya pada 2012.
Pihak Korsel mengatakan masih terus menyelidiki kasus serta motif pembelotan ini, dan memastikan bahwa tidak ada provokasi lanjutan yang terjadi di DMZ setelah insiden tersebut. (nat)