Arab Saudi Dukung Rekonsiliasi Hamas-Fatah

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Rabu, 15/11/2017 18:14 WIB
Arab Saudi Dukung Rekonsiliasi Hamas-Fatah Dubes Arab Saudi untuk Indonesia Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi. (CNN Indonesia/Riva Dessthania Suastha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Arab Saudi menyatakan dukungan terhadap upaya rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah, dua partai politik besar di Palestina yang berseteru selama satu dekade terakhir, pada pertegahan Oktober lalu. Meski sebelumnya, Mufti Saudi, Abdul Aziz Al-Sheikh mengeluarkan fatwa menyebut Hamas sebagai organisasi teroris.

Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi, menganggap perdamaian kedua belah pihak bisa memperbesar peluang rakyat Palestina yang selama ini berjuang meraih kemerdekaan penuh dan menyelesaikan konflik wilayah dengan Israel.

“Kami mendukung perdamaian di Palestina. Sebab, kami pernah katakan sebelumnya bahwa tidak akan ada perdamaian dengan Israel jika perdamaian di Palestina sendiri tidak tercapai,” kata Al Shuaibi kepada wartawan di Jakarta, Rabu (15/11).
Hamas, yang selama ini dianggap sebagai kelompok teroris oleh sejumlah negara termasuk Saudi, sepakat berdamai dan menyerahkan kekuasaan di Gaza pada pemerintah Palestina yang dipimpin Presiden Mahmoud Abbas dan didukung Fatah, setelah sejak 2007 lalu memberontak.


Niat baik Hamas tersebut dan berharap keputusan ini dapat mengakhiri perang sipil selama satu dekade terakhir yang menggerus persatuan bangsa Palestina itu.

Di bawah kesepakatan yang diteken di Mesir pada 12 Oktober itu, Jalur Gaza, yang selama ini dikuasai Hamas, akan diambil alih sepenuhnya oleh pemerintah Palestina per 1 Desember mendatang.
Kini, Hamas dilaporkan mulai menyerahkan sejumlah pos pemeriksaan di wilayah Gaza kepada otoritas Palestina sebagai langkah awal pelaksanaan kesepakatan rekonsiliasi.

Meski begitu, seperti diberitakan kantor berita Turki, Anadolu, baru-baru ini Mufti Saudi Abdul Aziz Al-Sheikh mengeluarkan fatwa yang menyebut Hamas sebagai organisasi teroris.

Menanggapi hal ini, Al Shuaibi menjelaskan bahwa negaranya memang masih menganggap Hamas sebagai kelompok teroris yang patut ditumpas walau telah berdamai dengan pemerintah Palestina.
“Sama seperti ISIS dan Al Qaidah, Hamas adalah organisasi teroris yang harus dilawan dan dipenjara, apalagi kelompok itu pernah bekerja sama dengan Iran, itu kan menjadi salah satu alasan kenapa Palestina terbagi dua,” paparnya.

Namun, karena rekonsiliasi telah tercapai, Hamas berarti telah mendukung pemerintah resmi Palestina. “Jika sudah seperti itu maka tidak ada lagi kelompok teroris [di Palestina],” kata Al Shuaibi. (nat)