Jumlah kematian terus meningkat setelah pasukan rezim dan pemberontak, yang memegang daerah kantong di pinggiran timur ibukota Suriah, saling berbalas serangan.
Menurut Pengamat Hak Asasi Manusia di Suriah, 52 warga sipil telah terbunuh sejak Selasa. Kebanyakan dari mereka ada di Ghouta Timur. Wilayah ini telah dikepung sejak 2013 dan kondisi kemanusiaan disana sangat mengerikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu tempat lain di Ghouta Timur, enam orang lainnya tewas dalam serangan udara yang dilakukan pemerintah Suriah.
Selasa lalu, kelompok Ahrar al-Sham asal Harasta, menyerang sebuah pangkalan militer rezim di daerah tersebut. Padahal wilayah itu harusnya menjadi zona berkurangnya tindak kekerasan atas kesepakatan antara Rusia, Iran, dan Turki.
Pertarungan di wilayah tersebut telah menewaskan setidaknya 37 orang dari pihak rezim. Abdel Rahman juga mengatakan bahwa peristiwa tersebut juga mengorbankan "puluhan" gerilyawan Islam.
Seorang pria tua berusaha menenangkan seorang gadis kecil yang sedang menangis. Bajunya berlumuran darah, sementara mayat tiga anak terbunuh dalam sebuah serangan tergeletak dalam sebuah meja logam.
Dua anak lain yang terluka duduk di bangku, diam, mata membelalak dengan tatapan kosong, mereka masih dalam keadaan terguncang. Seseorang diantaranya duduk dengan kaki dibebat. Semenatara kepala seorang lainnya diperban dengan darah membasahi tubuhnya.
Lihat juga:Suriah Klaim Ambil Alih Markas ISIS |
Enam orang tewas sehari sebelumnya. Pelatih karate nasional Suriah Fadel Radi, termasuk korban meninggal setelah terkena pecahan peluru saat ia meninggalkan klub olahraga Damaskus, kantor berita SANA melaporkan.
Lebih dari 330.000 orang diperkirakan tewas dalam perang Suriah yang sudah pecah sejak 2011, jutaan orang telah mengungsi.Perang ini pecah lantaran rezim menghancurkan demonstrasi anti-pemerintah secara brutal. (eks)