"Kami meminta pemerintah Indonesia dan negara kami masing-masing untuk mengambil tindakan urgen dan efektif untuk memastikan militer Indonesia segera ditarik dari Papua Barat dan Indonesia mendemiliterisasi kawasan sebagai langkah awal menuju penyelesaian konflik secara damai," kata para akademisi dalam surat terbuka di situs resminya, diakses CNNIndonesia.com pada Senin (20/11).
Kelompok yang menamai diri sebagai International Academics for West Papua itu menyebut tentara Indonesia telah secara rutin menembaki massa demonstrasi damai, membakar desa-desa dan menyiksa pegiat sipil dan warga setempat sejak 1969.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pasukan khusus Indonesia dan unit kontra-terorisme seperti Kopassus dan Detasemen 88--dilatih oleh negara-negara Barat--terimplikasi dalam pemukulan, pembunuhan di luar hukum dan pembunuhan massal" di wilayah tersebut.
"Keberadaan militer yang sangat besar, dikombinasikan dengan rasisme dan diskriminasi ekonomi sruktural terhadap populasi lokal Papua, hanya akan berakibat pada konflik dan pelecehan."
Selain menuntut penarikan aparat militer dan penghentia kerja sama, Chomsky dan kawan-kawan juga meminta Indonesia melepaskan para tahanan politik dan mengizinkan pengamat, lembaga non-pemerintah serta media internasional untuk memasuki Papua.
Filsuf dan akademisi AS Noam Chomsky. (chomsky.info/Oliver Abraham) |
Terakhir, Indonesia dan masyarakat internasional diminta mengakui ketidakadilan historis 1969, di mana warga Papua tidak diberikan hak menentukan polihan dan dipaksa bergabung dengan RI.
Selain Chomsky, sejumlah akademisi yang menandatangani surat tersebut di antaranya Michael Webb, dosen Universitas Sydney; Camellia Webb-Gannon, peneliti Universitas Sydney Barat; Helen Gardner, Profesor Deakin University; Grant McCall dari Universitas Sydney dan 14 praktisi lainnya.
(aal)
Filsuf dan akademisi AS Noam Chomsky. (chomsky.info/Oliver Abraham)