Kremlin menyatakan Putin dalam pertemuan itu meminta Assad mulai berfokus mencari solusi damai setelah sekian lama memprioritaskan operasi militer untuk membungkam pemberontak, termasuk ISIS, menyusul keberhasilan tentara Suriah merebut Albu Kamal, kota terakhir yang dikuasai kelompok teror tersebut.
"Kita masih harus menghadapi jalan panjang sebelum mencapai kemenangan sepenuhnya dalam melawan teroris. Namun, jika bicara soal kerja sama antara kedua negara dalam memerangi terorisme di Suriah, operasi militer memang hampir selesai," tutur Putin kepada Assad sebagaimana dikutip Reuters pada Rabu (22/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Putin juga mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada militer Rusia yang selama ini telah membantu Suriah melawan pemberontak. Dia mengklaim peran militernya selama ini berhasil membantu situasi di Suriah kembali stabil.
"Terima kasih kepada tentara Rusia, Suriah telah aman sebagai sebuah negara. Banyak yang telah dilakukan untuk menstabilkan situasi di Suriah," ujarnya.
"Kami tidak ingin melihat dan mengungkit masa lalu. Kami siap berdialog dengan semua pihak yang ingin menghasilkan penyelesaian politik," kata Assad seperti dilansir AFP.
ISIS sudah kehilangan sebagian besar wilayah kekuasaannya di Suriah. (REUTERS/Erik De Castro) |
Kepemimpinan Assad selama ini menjadi salah satu pemicu perpecahan hingga perang sipil selama enam tahun di Suriah.
Tak hanya Assad, Putin pun turut membicarakan upaya perdamaian Suriah dengan sejumlah pemimpin negara terkait seperti Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Raja Salman dari Arab Saudi, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, Presiden Iran Hassan Rouhani, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Melalui percakapan teleponnya dengan Trump pada Selasa (21/11), Putin menekankan pentingnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memimpin proses perdamaian Suriah.
Kepada Trump, Putin juga mengatakan bahwa Assad telah memastikan akan patuh terhadap proses politik untuk mereformasi konstitusi termasuk menggelar pemilihan presiden dan parlemen Suriah.
(aal)
ISIS sudah kehilangan sebagian besar wilayah kekuasaannya di Suriah. (REUTERS/Erik De Castro)