Duterte Tantang Perang Pemimpin Pemberontak Komunis Filipina

Hanna Azarya Samosir , CNN Indonesia | Rabu, 22/11/2017 18:46 WIB
Duterte Tantang Perang Pemimpin Pemberontak Komunis Filipina Presiden Rodrigo Duterte membatalkan perundingan dengan pemberontak komunis dan menantang para pemimpin kelompok yang sedang mengasingkan diri di Belanda untuk berperang. (Reuters/Lean Daval)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, membatalkan perundingan damai dengan pemberontak komunis New People's Army (NPA) dan menantang para pemimpin kelompok yang sedang mengasingkan diri di Belanda untuk berperang.

"Kalian katakan kepada orang-orang yang di Belanda sana, saya tidak mau lagi berunding. Ayo perang!" ujar Duterte, sebagaimana dilansir AFP, Selasa (21/11).

Dengan pengumuman ini, Duterte kembali menutup jalan keluar dari konflik yang sudah bergejolak sejak setengah abad lalu ini.

NPA merupakan sayap militer dari Partai Komunis Filipina (CPP) yang sudah memberontak sejak 1968 untuk menghapuskan sistem kapitalis di negara tersebut.
Perundingan damai untuk mengakhiri konflik yang sudah merenggut 30 ribu nyawa ini sudah berulang kali dilakukan, tapi tak pernah membuahkan hasil.

Duterte sendiri berjanji membuka kembali perundingan damai ini tak lama setelah ia dilantik menjadi presiden pada tahun lalu.

Perundingan itu pertama kali digelar pada Mei lalu, kemudian dilanjutkan dua bulan kemudian, setelah gerilyawan NPA menyerang sejumlah pasukan keamanan.
Namun, Duterte geram setelah para sekelompok pemberontak komunis melakukan serangan di selatan Filipina pada bulan ini hingga menewaskan satu personel kepolisian dan bayi berusia empat bulan.

"Jika kalian terus bersikap seperti itu, kita akan berperang karena bahkan warga sipil menjadi korban. Kita harus menghentikan perundingan ini," ucap Duterte.

Penasihat perundingan damai Duterte, Jesus Dureza, menyayangkan keputusan ini. Namun, Dureza memastikan bahwa dia akan segera memberi kabar kepada Belanda dan Norwegia selaku mediator perdamaian mengenai pembatalan ini.
"Ini merupakan perkembangan yang tidak diinginkan dalam upaya kami mencapai perdamaian. Sebelumnya, kami tidak pernah sampai sejauh ini dalam bernegosiasi dengan mereka," kata Dureza. (has/has)