Warga AS Eks Tahanan Korut Ditemukan Tewas Terbakar

Hanna Azarya Samosir , CNN Indonesia | Kamis, 23/11/2017 11:40 WIB
Warga AS Eks Tahanan Korut Ditemukan Tewas Terbakar Aijalon Mahli Gomes, pria yang pernah menjadi sorotan dunia ketika dibebaskan dari Korut berkat negosiasi mantan Presiden AS, Jimmy Carter, delapan tahun silam, ditemukan mati terbakar di Mission Bay Park pada Jumat (17/11). (Darren McCollester/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepolisian San Diego tengah menginvestigasi kematian misterius seorang pria yang pada delapan tahun silam menjadi sorotan dunia ketika mantan Presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter, membantu menegosiasikan pembebasannya dari Korea Utara.

Pria bernama Aijalon Mahli Gomes itu ditemukan mati terbakar di Mission Bay Park pada Jumat (17/11).

Gomes pertama kali ditemukan oleh seorang petugas Patroli Jalan Raya California yang kemudian mencoba menolongnya. Namun, ia langsung dinyatakan tewas di tempat.

Penyelidikan awal mengindikasikan Gomes tewas akibat kecelakaan atau bunuh diri. Namun, hasil penyelidikan akhir akan diumumkan setelah investigasi Kantor Pemeriksaan Medis rampung.
Sebagaimana dilansir CNN, kematian Gomes ini menimbulkan banyak pertanyaan mengenai kehidupan yang ia jalani setelah pulang dari Korut.

Gomes ditahan di Korut karena masuk secara ilegal dari China. Dia kemudian dijatuhi hukuman kerja paksa selama delapan tahun pada 2010 dan diwajibkan membayar denda US$600 ribu atau setara Rp8,1 miliar.

Dia akhirnya dibebaskan pada Agustus 2010 berkat negosiasi Carter. Kala itu, pemberitaan hanya berfokus pada cara Carter membebaskan Gomes dan kemungkinan sang presiden bertemu dengan pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong-un. Hanya sedikit media yang mengungkap kisah Gomes.
Warga AS Eks Tahanan Korut Ditemukan Tewas TerbakarKala itu, pemberitaan hanya berfokus pada cara Carter membebaskan Gomes dan kemungkinan sang presiden bertemu dengan pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong-un. (AFP Photo/Jung Yeon-Je)
Salah satu sumber yang kerap dijadikan rujuan untuk menggali kisah Gomes adalah penuturan dari pamannya, Michael Farrow, pada 2010, tak lama setelah pria itu dibebaskan.

Farrow mengaku kebingungan dengan keputusan Gomes menerobos ke Korut karena saat itu, keponakannya itu sudah hidup normal di Korsel. Menurut Farrow, Gomes bukan orang yang suka bertindak ekstrem.

"Dia tidak pernah melakukan hal ekstrem. Mungkin dia hanya ini masuk ke sana untuk membantu dan mengajar di sana. Dia memiliki motif yang baik. Saya tahu dia punya maksud baik," katanya.
Dalam buku bertajuk "Violence and Humanity" pada 2015, Gomes disebut menempuh pendidikan di sekolah negeri Massachusetts dan melanjutkan studinya di Bowdoin College di Brunswick, Maine, di mana dia mendapatkan gelar Bahasa Inggris.

Gomes lantas meniti karier di bidang edukasi di pinggiran Massachusetts sebelum pindah ke Korsel untuk mengajar di provinsi terpencil di Seoul.

Terinspirasi dengan keyakinan dan prinsip kesetaraan internasional, Gomes mengajar Bahas Inggris di sekolah menengah selama dua tahun sebelum menyeberang ke China.

[Gambas:Video CNN]

Tak diketahui jelas kegiatan yang dilakukan Gomes di China, hingga akhirnya dia ditangkap saat menyeberang secara ilegal ke Korut.

"Selama sembilan bulan, dia ditahan di penjara dengan pengawasan ketat, sementara teman dan keluarganya di AS tak mengetahui kondisi kesehatan dan keberdaannya karena ketegangan kian tinggi di kawasan, satu ujian untuk harapan, keyakinan, dan kemanusiaannya," demikian bunyi pengantar buku tersebut.

Sepulangnya dari Korut, Gomes selalu bersembunyi dari sorotan publik. Penulis buku itu mengatakan, selama periode tersebut, Gomes berjuang memulihkan "luka berkelanjutan yang diderita saat dipenjara di Korut." (has/has)