Netanyahu dicurigai menerima gratifikasi barang mewah dari para pendukungnya. Ia juga mendapat tuduhan membuat kesepakatan rahasia dengan penerbit harian yang paling laris, Yediot Aharonot. Kesepakatan itu dilakukan agar Netanyahu mendapat peliputan yang menguntungkannya.
Para pengunjuk rasa berkumpul di sebuah jalan raya besar kawasan elit di kota Israel pada Sabtu (2/12) malam waktu Israel. Berdasarkan laporan AFP, sejumlah massa meneriakkan ‘Shame’ dan ‘Bibi go home’. Bibi adalah julukan perdana menteri tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Bibi dan pemerintahannya menghancurkan negara ini. Sudah cukup banyak korupsi yang terjadi,” kata salah seorang demonstran Michal, yang juga penduduk Tel Aviv.
[Gambas:Video CNN]
Pemimpin oposisi Ishak Herzog mengungkapkan solidaritasnya dengan para pendemo lewat unggahan di Facebook.
“Frustrasi ... berasal dari perasaan tidak adil, jijik terhadap korupsi dan keberatan moral terhadap undang-undang yang dibuat untuk mengukur satu orang,” tulisnya.
Pendukung undang-undang ini, David Amsalem, mengatakan bahwa dia juga berusaha untuk melindungi hak dan reputasi tersangka. Amsalem sendiri berasal dari dari Partai Likud, yang merupakan partai asal Netanyahu.
Netanyahu dicurigai telah menerima gratifikasi dari orang-orang kaya, termasuk pengusaha Israel dan produser Hollywood Arnon Milchan. Pihak berwenang menyebutkan telah menginterogasi Milchan terkait hal itu.
Selain itu, polisi juga menduga kalau Yediot Aharonot meminta Netanyahu untuk mengekang pesaingnya, Israel Hayom. Hal itu dilakukan sebagai imbal jasa atas peliputan Yediot Aharonot yang menguntungkan Netanyahu. Meski demikian, pihak kepolisian belum yakin kalau perjanjian ini telah diselesaikan.
Hingga saat ini, Netanyahu terus membantah bahwa dirinya bersalah. Ia tetap mengatakan bahwa dirinya telah menjadi target kampanye negatif dari lawan-lawan politiknya.
(eks)