“Perubahan status Yerusalem akan bahayakan proses damai dan mengancam perdamaian di wilayah itu sendiri. Indonesia sangat prihatin dengan perkembangan isu terkini terkait masa depan status Yerusalem,” ujar Retno dalam pidato di seminar internasional tentang Palestina di Jakarta, Selasa (5/11).
Pernyataan itu diungkapkan Retno menyusul kabar Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan segera memindahkan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke kota tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia meminta seluruh negara, tak terkecuali AS, untuk mematuhi resolusi internasional tahun 1976 terkait legalitas status Yerusalem yang selama ini dianggap sebagai wilayah integral dari Palestina.
“Kepemimpinan dan kebijaksanaan AS sangat dibutuhkan dalam penyelesaian konflik ini,” kata Retno.
Ia percaya bahwa satu-satunya solusi jangka panjang untuk perdamaian Israel-Palestina adalah dengan solusi dua negara atau two-state solution.
Retno Marsudi menyampaikan pidato di seminar soal Palestina. (CNN Indonesia/Riva Dessthania Suastha) |
Tak hanya mendukung secara politik, Retno menuturkan, Indonesia juga terus berupaya menyalurkan sejumlah bantuan teknis untuk pembangunan di Palestina.
Retno juga mengatakan Indonesia berencana memberlakukan bebas tarif bagi sejumlah produk Palestina sebagai upaya pemberdayaan ekonomi negara itu.
“Pemberlakuan bebas tarif ini juga sudah kita bicarakaan lintas kementerian terkait dan harapannya ini bisa difinalisasi tahun depan,” tutur Retno.
Kabar pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel kembali mencuat setelah sejumlah pejabat Gedung Putih mengungkapkan bahwa Trump akan mengumumkan pemindahan kedubes Israel melalui pidato yang akan disampaikan pada Rabu ini.
Trump dikejar tenggat untuk memutuskan apakah akan menandatangani surat yang menangguhkan relokasi Kedutaan AS dari Tel Aviv selama enam bulan ke depan, seperti yang dilakukan para presiden AS sebelumnya sejak Kongres mengesahkan undang-undang soal itu pada 1995.
(aal)
Retno Marsudi menyampaikan pidato di seminar soal Palestina. (CNN Indonesia/Riva Dessthania Suastha)