Permintaan ini disampaikan langsung oleh Abbas setelah dia menerima telepon dari Presiden Donald Trump untuk membicarakan pemindahan kedubes tersebut, meski tanpa rincian waktu.
“Setelah telepon dengan Trump, Presiden Abbas berbicara dengan presiden Rusia dan Perancis, juga Paus dan Raja Abdullah dari Yordania. Dia meminta mereka menolak langkah tersebut dan mengintervensinya agar tidak terjadi,” ujar juru bicara Abbas, Nabil Abu Rdainah, kepada Reuters, Selasa (5/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Yerusalem adalah kunci untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di kawasan dan dunia,” demikian bunyi pernyataan Istana Kerajaan Yordania.
Yordania pun langsung merencanakan pertemuan darurat dengan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk membahas keputusan AS ini.
Kecaman juga datang dari sejumlah tokoh lain, termasuk diplomat senior Uni Eropa, Federica Mogherini, yang mengatakan bahwa tindakan unilateral yang berpotensi merusak kesempatan damai harus dihindari.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, pun angkat bicara dan mengatakan bahwa dia selalu “menentang keras tindakan yang dapat merusak solusi dua negara.”
Israel merebut Yerusalem saat perang Timur Tengah pada 1967 silam. Mereka kemudian mencaplok daerah tersebut, tapi tak diakui oleh masyarakat internasional.
Untuk menyatakan sikap penolakan tersebut, tak ada negara asing yang mendirikan kantor perwakilannya untuk Israel di Yerusalem.
Namun, pada Oktober 1995, Kongres AS meloloskan hukum untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan mengesahkan pendanaan pemindahan kantor kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Meski demikian, hingga saat ini, tak ada satu pun presiden AS yang menerapkan hukum itu. (has)