Dalam kunjungan pertamanya ke markas Uni Eropa di Brussels, Netanyahu mengatakan langkah Trump membantu proses perdamaian karena "mengakui kenyataan adalah bagian dari perdamaian, dasar dari perdamaian."
Israel yang mencaplok Yerusalem Timur setelah mendudukinya dalam perang 1967 menganggap seluruh bagian dari kota tersebut sebagai ibu kotanya. Sementara itu, warga Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya jika mendapatkan kemerdekaan penuh di masa yang akan datang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, bahkan para sekutu terdekat Israel di Eropa menolak logika tersebut dan menyatakan pengakuan ibu kota Israel secara sepihak berisiko memicu kekerasan dan merusak kesempatan berdamai.
Setelah jamuan sarapan dengan Netanyahu dan menteri-menteri luar negeri Eropa, Menlu Swedia menyatakan tidak ada satupun perwakilan negara benua biru yang menyuarakan dukungan atas kebijakan Trump dalam pertemuan tertutup itu.
Posisi Israel tampak mendapatkan lebih banyak dukungan dari negara-negara Uni Eropa ketimbang lainnya. Pekan lalu, Kementerian Luar Negeri Ceko menyatakan akan mulai mempertimbangkan memindahkan kedutaan dari Tel Aviv ke Yerusalem, sementara Hungaria memblokir rencana pernyataan Uni Eropa mengecam langkah AS.
[Gambas:Twitter]
Namun, Praha kemudian menyatakan hanya mengakui kedaulatan Israel atas Yerusalem Barat, dan Budapest menyatakan posisi jangka panjangnya soal solusi dua negara di Timur Tengah masih belum berubah.
Pada Senin, Menlu Ceko Lubomir Zaoralek mengatakan keputusan Trump "tidak akan membantu kita."
Presiden Palestina Mahmoud Abbas, sementara itu, berangkat ke Mesir dan diperkirakan akan berangkat ke Turki untuk bertemu dengan negara-negara Islam pekan ini, mencari dukungan dari para pemimpin yang memandang langkah Amerika sebagai kesalahan fatal.
[Gambas:Video CNN]
Abbas bertemu dengan Presiden Mesir Abdel Fatal al-Sisi di Kairo, juga kepala negara-negara Liga Arab. Mesir, sekutu AS yang telah berdamai dengan Israel, sempat memperantarai kesepakatan Israel-Palestina di masa lalu.
Presiden Donald Trump mengumumkan pengakuan AS atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada pekan lalu. Kebijakan baru ini bertentangan dengan pandangan Amerika selama beberapa dekade terakhir dan konsensus internasional bahwa status kota itu mesti diselesaikan melalui pembicaraan Israel-Palestina.
Sementara itu, di wilayah Palestina, bentrokan dengan kekerasan pecah antara warga dan pasukan keamanan Israel dan menewaskan beberapa serta melukai puluhan orang Palestina.
(aal)