FAO Bangun Pemrosesan Sagu Terintegrasi Pertama di Dunia

Natalia Santi, CNN Indonesia | Rabu, 20/12/2017 03:28 WIB
FAO Bangun Pemrosesan Sagu Terintegrasi Pertama di Dunia Mark Smulders, Kepala Perwakilan FAO di Indonesia (tengah) seusai meresmikan unit pemrosesan tepung sagu yang terintegrasi pertama di dunia, di Desa Labela, Kecamatan Besulutu, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Senin (18/12). (Foto: FAO)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Ketahanan Pangan Dunia (FAO) bersama Kementerian Pertanian serta perwakilan pemerintah daerah, meresmikan unit pemrosesan tapung sagu yang terintegrasi pertama di dunia, di Desa Labela, Kecamatan Besulutu, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Senin (18/12). Fasilitas pemrosesan tepung sagu tersebut dibangun sebagai upaya FAO untuk mewujudkan keragaman pangan di Sulawesi Tenggara.

“Hanya dengan upaya bersama dari seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah dan swasta maka sagu dapat menjadi industri pedesaan yang membawa keuntungan ekonomi di wilayah timur Indonesia," kata Mark Smulders, Kepala Perwakilan FAO di Indonesia lewat rilis yang diterima CNN Indonesia.

Fasilitas pengolahan sagu juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada sumber karbohidrat lain seperti biji-bijian beras dan jagung dengan mengambil manfaat sumber daya lokal.
 
Sulawesi Tenggara adalah penghasil sagu terbesar setelah Papua dengan luas lahan saat ini mencapai 5,000 hektar. Dari generasi ke generasi, penduduk di provinsi ini memanfaatkan sagu alam dari hutan sagu.


Sejak 2016, FAO menjadi pionir pemanfaatan sagu bekerja sama dengan kelompok tani di Kabupaten Konawe dan Konawe Selatan serta kelompok pengolah makanan di Kotamadya Kendari.
 
Proyek tersebut meliputi tiga program. Yakni, pengembangan usaha tani sagu dengan pendekatan agro-ekonomi untuk peningkatan produktivitas dan kualitas sagu. Kedua, membangun unit pengolahan tepung sagu terintegrasi yang higienis dan tanpa limbah. Ketiga, pengembangan bisnis sagu yang terintegrasi dengan pengelolaan kebun sagu, pemrosesan, sekaligus pemasarannya.

Unit Pengolahan Sagu Terintegrasi yang dibangun dan didukung FAO tersebut menekankan upaya peningkatan pemrosesan yang higienis, dengan ongkos produksi yang efisien dan pemanfaatan limbah dengan teknologi yang tepat untuk menjamin unit pemrosesan yang ramah lingkungan.

Bila dibandingkan dengan pemrosesan cara tradisional, tepung sagu yang dihasilkan  lebih berkualitas dan waktu proses yang lebih singkat. Dengan penggunaan teknologi yang modern, pemrosesan hanya memerlukan empat jam untuk sebuah batang sagu. Dengan rumah pengeringan yang terpisah, sepanjang hari terang, satu batang sagu akan menghasilkan sekurangnya 200 kg sagu dalam tiga hari.

Bila menggunakan pemrosesan tradisional, proses itu akan memakan waktu sampai satu minggu dengan hasil yang lebih sedikit dan kualitas yang rendah.

Sebagai bagian dari unit pemrosesan “tanpa-limbah”, limbah dari kulit sagu dimanfaatkan untuk memproduksi arang. Sementara itu, limbah ampas sagu digunakan sebagai media tumbuh jamur yang dapat dikonsumsi sementara limbah cair dapat dimanfaatkan sebagai sumber bio-gas atau ethanol.

Awalnya, limbah pemrosesan sagu tidak dimanfaatkan sama sekali, sementara limbah cair menjadi sumber polusi sungai setempat.

Samsuddin, salah satu petani sagu di desa Labela, mengatakan bahwa dia sangat senang dengan fasilitas unit pengolahan sagu terintegrasi ini sekaligus pelatihan-pelatihan yang diberikan. “Dulu kita biasanya membuang limbah sembarangan yang merugikan dan mematikan tumbuhan lainnya,” kada dia.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Konawe M. Akbar mengharapkan proyek tersebut dapat dicontoh di daerah lain yang memiliki potensi serupa. Selain Kecamatan Besulutu, daerah penghasil sagu yang besar di Konawe adalah Kecamatan Puriala, Lambuya, Meluhu, dan Sampara.
 
“Saya berharap pusat pemrosesan sagu yang terintegrasi akan meningkatkan nilai sagu menjadi produk yang diminati pasar global sekaligus memperbaiki kesejahteraan penduduk Besulutu dan Konawe,” kata M. Akbar.

(arh)


ARTIKEL TERKAIT