Yanghee Lun, Pelapor Khusus terkait situasi hak asasi manusia di Myanmar, mendapat informasi tersebut pada Rabu (20/12). Aksesnya ke negara tersebut ditolak dan kesepakatan kerja samanya dibatalkan, kata PBB.
"Saya bingung dan kecewa dengan keputusan pemerintah Myanmar," ucap Lee. "Deklarasi penolakan kerja sama dengan mandat saya hanya bisa dipandang sebagai indikasi kuat yang menunjukkan ada hal buruk terjadi di Rakhine, juga di seluruh penjuru negara."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penangkalan imigrasi ini dilakukan sehari setelah media pemerintah Myanmar melaporkan sebuah kuburan massal berisi 10 jenazah ditemukan di Inn Din, utara ibu kota Rakhine, Sittwe.
Surat kabar Global New Light of Myanmar, sebagaimana dikutip CNN, melaporkan militer akan melaksanakan penyelidikan terkait temuan ini.
Ilustrasi pengungsi Rohingya. (REUTERS/Danish Siddiqui) |
Pemerintah Myanmar menyatakan pertumpahan darah adalah akibat dari penggerebekan militer terhadap kelompok bersenjata yang melakukan serangan terkoordinasi di sejumlah pos perbatasan.
Pada November, militer Myanmar mengatakan, sebanyak 376 "teroris Benggala ARSA" tewas dalam pertempuran antara 25 Agustus hingga 5 September, merujuk kepada kelompok bersenjata Rohingya yang dipermasalahkan.
"Mereka tidak mau siapapun masuk, baik karena mereka benar-benar mencoba menyembunyikan sesuatu atau saya tidak yakin, karena mereka mengatakan satu hal, bahwa tidak ada hal bisa disembunyikan, tapi mereka kemudian menolak akses," kata Lee kepada CNN.
Ilustrasi pengungsi Rohingya. (REUTERS/Danish Siddiqui)