Dikutip dari Anadolu, kebijakan yang dikeluarkan oleh Presiden Donald Trump itu disebut telah menghina umat Kristen dan Muslim di seluruh dunia.
"Kami, warga Palestina, kristen dan muslim menolak pengakuan Amerika Serikat terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel," kata Uskup Agung Gereja Yunani Ortodoks, Atallah Hanna saat jumpa pers di Kota Bethlehem, Tepi Barat, pada Sabtu (23/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia juga mengingatkan Amerika bahwa kebijakan terhadap Yerusalem bisa membahayakan.
Presiden AS Donald Trump secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada 6 Desember lalu. Kebijakan itu memicu kemarahan dan demonstrasi di sejumlah negara berpenduduk muslim.
Amerika dan Israel yang menolak resolusi itu hanya didukung oleh tujuh negara, sementara 128 negara lain mendukung dan hanya 35 negara yang memilih abstain.
Hanna mengatakan, aksi kekerasan oleh pemerintah Israel menyasar kepada semua penduduk Palestina, termasuk kepada muslim dan umat Kristen.
"Bersama-sama kami akan menghentikan proyek kolonial baru dari Trump yang bertujuan mengakhiri perjuangan rakyat Palestina," kata Hanna.
Dia menekankan bahwa Gereja Evangelis Lutheran menolak setiap perubahan atas status historis tersebut.
"Siapapun yang mencoba mengubahnya (status quo), artinya ingin mengubah ini menjadi perang agama," ujar Munib.
Gubernur Bethlehem Gebin Bakri menyatakan kembali penolakan 14 gereja di Palestina atas klaim AS terhadap Yerusalem.
"Karena keputusan itu, kami tak akan lagi menerima Amerika Serikat sebagai mediator proses perdamaian," tutur Gebin. (wis)