Langkah terbaru negara adidaya tersebut ditempuh untuk memaksa Korea Utara, yang selama mengabaikan sanksi multilateral dan bilateral bertahun-tahun, menghentikan program rudal balistik yang memiliki kemampuan menyerang AS tersebut.
Departemen Keuangan AS menyebut dua pejabat tersebut, yakni Kim Jong Sik dan Ri Pyong Chol. Kim disebut berada di balik upaya Korea Utara menggantikan program rudalnya dari bahan bakar cair ke padat. Sementara itu, RI disebut berada dibalik pengembangan rudal balistik lintas benua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Rusia Siap Jadi Penengah Korut dan AS |
Langkah tersebut menyusul sanksi baru PBB yang diumumkan pada Jumat sebagai tanggapan uji coba program rudal balistik Korea Utara pada 29 November lalu. Sanksi dilakukan dengan membatasi penggunaan energi minyak oleh negara tersebut dan pendapatan Korea Utara dari pekerjanya yang bekerja di luar negeri.
Korea Utara kemudian mengumumkan langkah PBB sebagai blokade ekonomi lengkap dan memicu tindakan perang.
Kebuntuan ketegangan antara Amerika Serikat dan Korea Utara menimbulkan kekhawatiran akan konflik baru di Semenanjung Korea. Secara teknis, perang Korea pada 1950-1953 masih berlangsung karena berakhir hanya dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai. (agi/reuters)