Myanmar dan Bangladesh Bertemu Bahas Repatriasi Rohingya

Puput Tripeni Juniman , CNN Indonesia | Minggu, 14/01/2018 18:09 WIB
Myanmar dan Bangladesh Bertemu Bahas Repatriasi Rohingya Pemerintah Myanmar dan Bangladesh melakukan pertemuan untuk pertama kalinya untuk membahas pemulangan kembali pengungsi Rohingya ke negara asalnya. (AFP PHOTO / Ed Jones).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Myanmar dan Banglasdesh bertemu untuk membicarakan rencana repatriasi pengungsi Rohingya. Pertemuan ini membahas rencana implementasi kesepakatan yang sudah ditandatangani pada 23 November lalu untuk pemulangan kembali para pengungsi ke negara asalnya.

Pertemuan ini bakal digelar pada Senin (15/1) esok, di Naypytaw, Myanmar. Pertemuan ini akan jadi pertemuan pertama yang mempertemukan tim gabungan dari kedua negara.

Pejabat Kementerian Luar Negeri Bangladesh Shahidul Haque menyebutkan, masalah utama yang harus segera ditangani adalah memverifikasi identitas para pengungsi.

"Tantangannya adalah menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mereka kembali kata," kata Haque, mengutip CNN.com, Minggu (14/1).

Bangladesh akan memulai prosesnya pada bulan ini juga dengan memilih 100 ribu pengungsi Rohingya secara acak dari daftar pengungsi yang teregistrasi.

Haque mengatakan, pemerintah Myanmar akan memeriksa nama-nama pengungsi sebelum eksodus Agustus. Nama-nama yang disetujui akan ditanya terlebih dahulu apakah mereka ingin kembali ke Myanmar atau tidak.

Para pengungsi yang tidak memiliki dokumen akan diverifikasi dengan menanyakan jalan, desa dan tanda lainnya di dekat rumah mereka sebagai bukti agar mereka bisa kembali.

Sementara itu, Juru Bicara Pemerintah Myanmar Zaw Htay menuturkan, pengungsi bisa mengajukan kewarganegaraan setelah mereka melewati proses verifikasi.

Sebuah badan yang bertugas mengawasi repatriasi di Myanmar menyatakan sudah menyediakan dua tempat penampungan sementara. Satu tempat lainnya sedang dalam persiapan.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjelaskan bahwa Indonesia juga ikut membantu repatriasi Rohingya dengan membangun tempat penampungan.

"Indonesia siap berkontribusi baik dalam pelaksanaan repatriasi maupun implementasi rekomendasi Laporan Kofi Annan. Salah satunya, yakni pembangunan shelter (tempat penampungan) dan desa-desa karena persoalan repatriasi pengungsi menyangkut banyak hal," terang dia. (bir)