"Berita palsu adalah pertanda sikap intoleran dan hipersensitif, dan hanya berujung pada penyebaran arogansi dan dan kebencian. Itu adalah hasil akhir dari kebohongan," kata Paus, Rabu (24/1).
Pernyataan itu ada pada dokumen yang diterbitkan setelah perdebatan selama beberapa bulan soal seberapa jauh berita palsu memengaruhi pemilihan umum Amerika Serikat dan pemilihan Presiden Donald Trump.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berita salah namun mudah dipercaya ini 'kerap mencari gara-gara' merebut perhatian orang dengan mengundang stereotipe dan prasangka sosial umum, dan mengeksploitasi emosi seketika seperti kegusaran, kebencian, kemarahan dan frustrasi," ujarnya.
Berita palsu menyebar begitu cepat sehingga bahkan bantahan otoritas kerap tidak bisa membendung kerusakan yang terjadi dan banyak orang berisiko menjadi "pembantu penyebar ide bias dan tanpa dasar secara tak sadar," kata Paus.
(aal)