Lupakanlah sejenak berita Kim Jong-un yang dilaporkan beberapa kali membunuh kerabatnya sendiri dan coba ingat Barack Obama yang mengizinkan ratusan operasi pesawat nirawak pencabut nyawa.
Pertumpahan darah hampir selalu mendapat pembenaran, terutama ketika negara sedang berperang. Bagaimana dengan Israel yang terlibat konflik tak berkesudahan dengan Palestina?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tentu, pemerintah Zionis bakal berupaya sekuat tenaga mempertahankan hal tersebut sementara Palestina berupaya mendapatkan kemerdekaan penuh. Salah satu instrumen untuk mencapai tujuan itu adalah adalah badan intelijennya, Mossad.
Hal itu disampaikan lewat bukunya, 'Rise and Kill First' yang diterbitkan belum lama ini, Januari 2018. Operasi klandestin di balik garis depan lawan, kata Bergman, jadi "prinsip utama doktrin keamanan Israel."
"Eksekusi ringkas atas para tersangka yang belum memberikan ancaman, pelanggaran hukum Israel dan hukum perang--bukan merupakan aksi sewenang-wenang oleh oknum," kata Bergman dalam buku itu. "Tindakan-tindakan itu merupakan pembunuhan ekstrayudisial yang disetujui negara."
Glenn Frankel, mantan wartawan The Washington Post untuk biro Yerusalem, mengatakan Israel menghadapi ancaman keamanan yang sangat nyata.
Dia membandingkan dengan Amerika Serikat yang melupakan hak asasi manusia dan melakukan serangkaian pembunuhan terencana, penculikan, penyiksaan dan pemenjaraan tanpa pengadilan usai serangan 11 September yang menewaskan 3.000 orang.
Israel disebut tidak hanya melangkahi batas legalitas tapi menginjak-nginjaknya. (AFP PHOTO/Jaafar Ashtiyeh) |
Menyusun buku itu, Bergman melakukan lebih dari 1.000 wawancara dan menyelami bertumpuk-tumpuk dokumen yang tak terpublikasi. Buku itu ditulis dalam waktu delapan tahun.
Lihat juga:Israel Tunjuk Direktur Mossad yang Baru |
Salah satu cerita yang menarik adalah pembunuhan Wadie Haddad, pemimpin al-Jabhan al-Shabiyyah li-Tahrir Filastin yang diyakini merencanakan pembajakan pesawat di Entebbe, Uganda, pada 1976.
Menurut Bergman, Mossad membunuhnya menggunakan alat yang biasa kita temui sehari-hari: pasta gigi.
Pasta Gigi Beracun
Mossad bisa "sangat, sangat, sangat dekat dengan Haddad," dan menukar pasta giginya dengan kemasan lain yang identik "berisi racun mematikan, dikembangkan lewat upaya keras di Institut Penelitian Biologis Israel di Ness Ziona."
"Setiap Haddad menyikat giginya, sedikit racun mematikan itu menembus membran lendir di mulutnya dan masuk ke pembuluh darahnya," tulis Bergman. Perlahan, zat itu berakumulasi hingga berakibat fatal.
Haddad meninggal dunia di rumah sakit Jerman Timur pada 1978. "Cerita soal jeritannya di rumah sakit milik Stasi itu menyebar ke mana-mana," ujar Bergman dalam wawancara.
Lihat juga:Hamas Tangkap Lumba-lumba Mata-mata Israel |
Sejak saat itu, ilmuwan Irak yang membuat bom diwajibkan membawa pasta gigi dan sikat giginya ke mana-mana. "Mereka membawa pasta giginya ke mana-mana dan tetap saja dua di antara mereka terkena racun."
Pembunuhan Yasser Arafat
Dalam wawancara, Bergman mengungkap hal yang tidak dia tuliskan di buku, yakni obsesi eks Perdana Menteri Ariel Sharon membunuh Yasser Arafat.
"Ini tidak ada di buku, tapi Ehud Barak mengatakan kepada saya bahwa ketika Ariel Sharon ditunjuk sebagai Menteri Pertahanan pada September 1981, dia mengumpulkan Staf Jenderal dan mengatakan kepada Raful (kepala staf, Eitan): katakan kepada saya, bagaimana bisa Arafat bisa masih hidup?
Barak, eks PM yang saat itu menjabat sebagai kepala divisi perencanaan tentara Israel, mengaku sempat mempresentasikan rencana untuk membunuh Arafat, 10 tahun sebelumnya. Namun, rencana itu diblokade karena Arafat dianggap tokoh politik.
"Ya, mulai sekarang, saya mengganti perintah itu dan saya mengembalikan Arafat ke puncak daftar orang untuk dibunuh," kata Sharon saat itu.
Saat itu, penembak runduk atau sniper Israel sudah membidik Arafat. Dia sempat mengambil foto ketika pemimpin PLO itu dievakuasi dari Beirut pada Agustus 1982.
PM Menachem Begin saat itu berjanji kepada Amerika Serikat tidak akan membunuh Arafat. "Foto-foto itu diberikan kepada (utusan AS) Philip Habib untuk menunjukkan Begin memegang janjinya," kata Bergman.
Setelah itu, Sharon kembali mengincar Arafat dan memerintahkan untuk membunuhnya di pesawat. Bergman mengatakan Arafat "kadang terbang dengan pesawat pribadi, tapi kadang juga menggunakan pesawat komersial."
Salah seorang sumber mengatakan: "kau tahu saya sudah menunggu 30 tahun hingga ada seseorang yang datang dan bertanya soal ini."
Yasser Arafat disebut berulang kali jadi incaran Israel. (REUTERS/Gary Hershorn) |
Serangan itu tidak pernah terjadi, kata Bergman, hanya karena "ada sekelompok pejabat heroik" yang mencegahnya dengan "mengganggu sistem sehingga hal itu tidak terjadi."
Dalam buku itu, Bergman menyatakan bahwa dia tidak bisa menjawab hal itu, jika ia tahu sekalipun. Sensor militer "melarang saya membahas subjek itu."
Namun, dia mengutip Sharon mengatakan "biarkan saya melakukan hal dengan cara saya sendiri."
Bergman juga menggarisbawahi fakta bahwa "waktu kematian Arafat (pada November 2004) cukup istimewa, terjadi sangat dekat dengan pembunuhan" Sheikh Ahmed Yassin, pemimpin spiritual Hamas, yang dilakukan oleh Israel.
Dia juga menegaskan bahwa "kita bisa bilang secara pasti bahwa Sharon ingin menyingkirkan Arafat, yang dia pandang sebagai 'hewan buas berkaki dua'."
(aal)
Israel disebut tidak hanya melangkahi batas legalitas tapi menginjak-nginjaknya. (AFP PHOTO/Jaafar Ashtiyeh)
Yasser Arafat disebut berulang kali jadi incaran Israel. (REUTERS/Gary Hershorn)