RI-Kamboja Sepakat Percepat Negosiasi Kode Etik LCS

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Jumat, 02/02/2018 14:10 WIB
RI-Kamboja Sepakat Percepat Negosiasi Kode Etik LCS Indonesia dan Kamboja sepakat mendorong percepatan negosiasi draf Kode Etik (CoC) di Laut China Selatan antara negara anggota ASEAN dan China segera rampung. (CNN Indonesia/Riva Dessthania Suastha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia dan Kamboja sepakat mendorong percepatan negosiasi draf kode etik atau Code of Conduct (CoC) di Laut China Selatan (LCS) antara ASEAN dan China.

Kesepakatan itu diutarakan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi seusai pertemuan bilateral dengan  Menlu Kamboja Prak Sokhonn  di Jakarta, Jumat (2/2).

“Terkait menjaga perdamaian dan keamanan di kawasan, saya bersama Menlu Sokhonn menekankan bahwa momentum positif yang telah dicapai di kawasan seiring dengan disepakatinya kerangka CoC LCS Agustus lalu bisa terus berlanjut,” ucap Retno dalam pernyataan pers bersama Sokhonn.


“Dan kami berdua menantikan negosiasi draf CoC yang dijadwalkan berlangsung Maret 2018 agar segera dirampungkan,” lanjutnya.


Senada dengan Retno, Sokhonn juga berharap bahwa kode etik Laut China Selatan bisa segera disahkan dan diimplementasikan.

Menurutnya, kode etik ini penting sebagai pedoman bagi negara-negara terkait untuk bersikap mengenai wilayah perairan yang menjadi salah satu jalur perdagangan terbesar di dunia itu.

“Indonesia dan Kamboja memiliki pandangan yang sama mengenai isu di kawasan terutama masalah CoC LCS. ASEAN-China sudah bisa menyepakati kerangka CoC itu dan kini negosiasi draf COC diharapkan bisa cepat selesai—sama seperti yang Retno katakan,” ujar Sokhonn.

Selain Laut China Selatan, kedua menlu juga menekankan pentingnya menjaga kesatuan dan sentralitas ASEAN. Kedua hal itu, menurut para menlu, adalah kunci mempertahankan ASEAN sebagai blok regional yang relevan untuk membantu menjaga kawasan yang stabil dan sejahtera.


Kerja Sama Ekonomi

Untuk memperkuat kerja sama, RI dan Kamboja akan menggelar pertemuan Joint Commission on Bilateral Cooperation (JCBC) ke-4 di paruh kedua tahun ini.

Dalam pertemuan itu, Indonesia dan Kamboja akan mengevaluasi kerja sama bilateral yang telah dilakukan selama ini. Retno mengatakan kedua negara uga sepakat menggenjot kerja sama ekonomi dalam berbagai sektor termasuk perdagangan, investasi, pariwisata, pertahanan, hingga perhubungan.

“Investasi RI di Kamboja sangat menjanjikan. Tahun 2016 sebagai contoh, investasi RI telah mencapai lebih dari US$350 juta yang mencaku di sektor kuliner, perumahan, transportasi, dan infrastruktur,” ujar Retno.


Berdasarkan data Kemlu RI, nilai perdagangan RI-Kamboja selama periode Januari hingga Oktober 2017 mencapai US$441,5 juta. Selama tiga tahun terakhir nilai perdagangan kedua negara tercatat meningkat signifikan.

Dalam bidang pariwisata, kedua negara sepakat memperkuat kerja sama budaya yang sudah ada seperti mempromosikan Sister Tample antara Candi Angkor Wat dan Candi Borrobudur.

Kedua negara, tutur Retno, juga tengah membicarakan prospek pembukaan rute penerbangan langsung Jakarta-Phnom Penh. (nat)