Kekerasan dan pembunuhan Rohingya oleh aparat Myanmar memaksa ratusan ribu orang mengungsi melintasi perbatasan ke Bangladesh. Kedua negara telah sepakat untuk merepatriasi mereka, dengan syarat para pengungsi bisa membuktikan domisilinya di negara asal.
Menurut Amnesty dalam keterangan yang diterima CNNIndonesia.com pada Kamis (8/2), bukti-bukti baru mengonfirmasi "pembersihan etnis" Rohingya oleh militer Myanmar terus dilakukan dalam beberapa pekan terakhir dengan berbagai cara, seperti penganiayaan, pemaksaan kelaparan dan penculikan perempuan dan anak-anak perempuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut organisasi tersebut, ada ribuan pendatang baru selama Desember dan Januari. Sementara pada beberapa hari terakhir ada sejumlah orang yang masih melintasi perbatasan.
"Pasukan keamanan Myanmar tengah merancang strategi untuk secara diam-diam mengusir etnis Rohingya yang tersisa. Tanpa adanya tindakan internasional yang lebih efektif, gerakan pembersihan etnis ini akan semakin memperburuk keadaan."
Menurut organisasinya, "penindasan" yang terus berlangsung dirancang untuk membuat Rakhine, tempas asal para Rohingya, tidak bisa lagi dihuni.
Pengungsi yang baru datang ke Bangladesh, kata Amnesty, mengatakan mereka lebih memilih menetap di Myanmar untuk melindungi properti dan hak menempati tempat tinggalnya.
"Hampir semua dari mereka menuduh kelaparan paksa terhadap penduduk Rohingya yang tersisa telah menciptakan keresahan terkait ketahanan pangan dan memaksa mereka untuk pergi," kata Amnesty International.
Ilustrasi pengungsi Rohingya. (REUTERS/Adnan Abidi) |
"Tindakan itu semua telah mengakibatkan kekurangan pangan dan menutup mata pencaharian penduduk Rohingya."
Amnesty International juga mendokumentasikan tiga insiden yang terjadi baru-baru ini terkait tindakan tentara militer yang menculik perempuan dan anak perempuan.
Penghilangan Paksa
Pada awal Januari, pasukan Myanmar menggeruduk sebuah rumah di Desa Hpoe Khaung Chaung, Buthidaung. Saat itu, Hasina (25), seorang warga yang diwawancarai Amnesty, mengatakan tentara menodongkan senjata dan memaksa pamannya menyerahkan salah seorang sepupu yang berusia 15 tahun.
Hingga saat ini, menurutnya, mereka belum bertemu dengan gadis itu lagi. Hal yang sama juga menimpa perempuan dan anak perempuan yang diculik dan dihilangkan secara paksa.
"Mengingat kekerasan seksual yang terus meningkat dan juga gerakan militer untuk memusnahkan etnis Rohingya di negara bagian Rakhine Utara, penculikan terhadap perempuan dan anak perempuan menimbulkan kekhawatiran yang serius akan pemerkosaan dan perbudakan massal."
(aal)
Ilustrasi pengungsi Rohingya. (REUTERS/Adnan Abidi)