FOTO: Gerakan Menolak Sunat dari Perempuan Uganda

AFP, CNN Indonesia | Sabtu, 10/02/2018 18:50 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Sejak 2010 praktik sunat pada perempuan telah resmi dilarang di Uganda. Namun masih banyak perempuan yang dibayang-bayangi oleh tradisi itu.

Seorang bocah membasuh tubuh ketika pemimpin adat suku Pokot di Uganda mengadakan ritual artifisial sunat untuk perempuan. Di negara itu, praktik sunat perempuan sudah dilarang sejak 2010. (AFP PHOTO / Yasuyoshi CHIBA)
PBB mengestimasi lebih dari 200 juta perempuan menjalani sunat -- praktik yang disebut bisa membahayakan hidup mereka yang melakukannya. (AFP PHOTO / Yasuyoshi CHIBA)
Foto ini menunjukkan papan pesan di sekolah perempuan Kalas, yang menjadi tempat penampungan bagi perempuan-perempuan Uganda yang menjalani praktik sunat perempuan atau pernikahan dini. (AFP PHOTO / Yasuyoshi CHIBA)
Bukan hanya di Uganda, di negara tetangganya yaitu Kenya, para perempuan pun menyuarakan gerakan anti-sunat. Bahkan, konferensi nasional anti-sunat perempuan sukses digelar di Kenya pada Februari ini. (AFP PHOTO / Yasuyoshi CHIBA)
PBB menyebut bahwa hingga 2030 nanti akan ada 68 juta perempuan yang menjalani praktik sunat, sehingga gerakan anti-sunat perempuan tetap perlu digelorakan. (AFP PHOTO / Yasuyoshi CHIBA)
(AFP PHOTO / Yasuyoshi CHIBA)
Seorang perempuan yang pernah praktik menyunat perempuan, Monika Cheptilak, menunjukkan alat yang digunakan. Sejak larangan sunat perempuan diberlakukan pada 2010 silam, Monika sendiri telah berhenti dari pekerjaan tukang sunat. (AFP PHOTO / Yasuyoshi CHIBA)
Bertepatan dengan Hari Nol Toleransi untuk Sunat Perempuan pada 6 Februari silam, Sekjen PBB Antonio Guterres juga menyatakan bahwa sunat perempuan sebagai aksi melanggar hak asasi manusia. (AFP PHOTO / Yasuyoshi CHIBA)
 PBB sendiri menyebut praktik sunat perempuan sering dilakukan pada mereka-mereka yang belum bersuara, yang biasanya balita hingga 15 tahun. (AFP PHOTO / Yasuyoshi CHIBA)
 PBB juga menyebut sunat perempuan bisa membahayakan tubuh perempuan serta mempengaruhi kemampuan untuk memiliki anak. (AFP PHOTO / Yasuyoshi CHIBA)