Saat pesawat Rusia ditembak jatuh pemberontak, Kementerian Pertahanan menyebut pilotnya sebagai pahlawan. Kini, Kremlin menepis laporan korban massal, tidak menyebut siapa saja yang tewas dan tidak menjelaskan alasan orang-orang itu berada di sana.
Keluarga para korban tewas mulai melontarkan pertanyaan. Sementara itu, detail soal alasan para kontraktor militer itu berada di wilayah kaya minyak yang jadi sasaran serangan perlahan mulai muncul.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Orang-orang Rusia itu bekerja untuk perusahaan paramiliter bernama Wagner. Perusahaan itu mempunyai ratusan kontraktor di Suriah, membantu militer Rusia dan pasukan pro-pemerintahan.
Ketika pasukan pro-pemerintah mulai menembaki pangkalan SDF, AS merespons dengan serangan udara besar-besaran dan tembakan artileri selama tiga jam.
AS merespons tembakan kontraktor militer Rusia dengan serangan udara. (REUTERS/Hamad I Mohammed) |
Akibatnya adalah kehancuran yang luar biasa. Kesaksian sejumlah kontingen Wagner, sebagaimana diceritakan kepada rekan-rekan dan keluarganya, menyebut AS melakukan pembantaian dengan pesawat serbu AC-130, helikopter dan artileri.
Shebayev, anggota kelompok Cossack yang menjadi sumber perekrutan Wagner, menyebut apa yang terjadi setelah itu adalah "sebuah pembantaian."
Foto: AFP PHOTO / STRINGERSituasi Deir Ezzor. |
Ruslan Leviev, aktivis Conflict Intelligence Team di Moskow, mengatakan pihaknya memperkirakan ada 20 hingga 30 warga Rusia yang tewas dalam peristiwa itu.
Pemerintah Rusia menolak mengonfirmasi laporan-laporan tersebut. Pada Kamis, juru bicara Kementerian Luar Negeri Maria Zakharova hanya mengakui lima warga Rusia mungkin tewas dalam serangan itu.
Respons dingin atas kematian para kontraktor ini bukan kejutan. Moskow berusaha untuk menggambarkan keterlibatannya di Suriah sebagai perang yang sebagian besar dilakukan lewat udara, dengan sesekali pertempuran darat.
Namun, jika peristiwa terakhir ini terkonfirmasi memakan banyak korban, maka ini akan jadi pertempuran paling mematikan antara AS dan Rusia sejak akhir Perang Dingin.
Amerika menyatakan telah mengikuti protokol untuk menghindari konflik. "Rusia mengaku mereka tidak tahu ketika kami menghubungi mereka soal pasukan yang melintas [Euphrates]. Saat pasukan itu mendekat, mereka diberi tahu bahwa penembakan dimulai," kata Menteri Perahanan AS James Mattis, 11 Februari.
(aal/gil)
AS merespons tembakan kontraktor militer Rusia dengan serangan udara. (REUTERS/Hamad I Mohammed)
Foto: AFP PHOTO / STRINGER