Setidaknya secara publik, Rusia jadi pihak yang banyak menerima kritik di Konferensi Keamanan Munich, Jerman, terutama karena mengintervensi pemilihan umum AS 2016 dan mencaplok Crimea dari Ukraina, 2014 lalu.
Untuk negara-negara Barat, kesamaan ini menandakan perubahan setelah dibayangi retorika Trump soal "America First," pernyataannya yang plinplan soal NATO dan Uni Eropa, keputusan menarik AS dari perjanjian iklim Paris dan langkahnya menolak mengakui kepatuhan Iran pada kesepakatan nuklir 2015.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya takjub bahwa ... Rusia datang, mereka mengirim seseorang setiap tahun hanya untuk menampik fakta-fakta," kata Direktur Intelijen Nasional Dan Coats soal kehadiran Rusia dalam acara tersebut.
Dari timur Ukraina hingga Korea Utara, status Rusia merupakan kekuatan nuklir. Intervensi militernya di Suriah dan veto di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa bisa diartikan upaya apapun mesti melibatkan Moskow, kata para pejabat.
Di balik layar, para diplomat menyatakan ada nada yang berbeda, sebagaimana ditunjukkan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg yang bertemu Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di hotel Bayerischer Hof.
"Ada jaringan diplomatik yang bekerja," kata senator Rusia, Aleksey Pushkov, merujuk pada kontak untuk menyelesaikan perang saudara Suriah yang melibatkan Moskow, Ankara, Washington dan Tel Aviv. "Itu sesuatu yang, jika digunakan secara efisien, bisa mencegah konfrontasi lebih besar."
(aal)