Militan Islam ini menyerang sekolah menengah Sains milik pemerintah khusus perempuan di wilayah Dapchi, Yobe pada Senin (19/2) pagi. Awalnya, penduduk setempat mengatakan bahwa para gadis dan guru mereka melarikan diri.
Namun, kekhawatiran berkembang soal dimana keberadaan para siswi dan gurunya kini. Salah seorang siswi yang berhasil lolos mengatakan bahwa mereka kemungkinan dibawa oleh pejuang Boko Haram.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para orang tua dan wali yang cemas berkumpul di sekolah pada Rabu (21/2) untuk mencari kepastian. Pernyataan berbeda-beda diutarakan mengenai jumlah perempuan yang hilang.
Gubernur negara bagian Yobe Ibrahim Gaidam mengatakan "lebih dari 50" masih belum diketahui keberadaannya. Sementara komisaris polisi negara bagian tersebut mengatakan bahwa mereka masih hilang.
"Sisanya hilang, tidak ada kasus penculikan sejauh ini," katanya kepada wartawan di ibukota negara bagian Yame, Damaturu.
Senjata penculikan
Kelompok ekstrimis Islam Boko Haram seringkali menggunakan penculikan sebagai salah satu senjata selama sembilan tahun pemberontakan mereka. Hal ini menimbulkan keresahan warga akan adanya penculikan massal lainnya.
Nama Boko Haram mencuat di dunia setelah mereka melakukan penculikan pada April 2014. Saat itu mereka menculik 276 anak perempuan dari dari sekolah mereka di Chibok, di negara bagian Borno.
Abubakar Shehu, yang keponakannya termasuk di antara orang-orang yang hilang dari Dapchi, mengatakan bahwa pencarian di desa-desa sekitar tak menampakkan hasil.
"Kami memiliki ketakutan bahwa kita menghadapi skenario Chibok lain," tuturnya. (eks)