Setidaknya 38 orang tewas pada Rabu (21/2). Sejak Minggu malam, sudah ada 310 orang yang kehilangan nyawa dan lebih dari 1.550 luka-luka, kata kelompok pengamat Syrian Observatory for Human Rights.
Ghouta bagian timur, distrik pertanian padat penduduk yang ada di pinggiran Damaskus, adalah area besar terakhir di sekitar ibu kota yang masih dikuasai pemberontak. Kawasan yang dihuni oleh 400 ribu orang ini telah dikepung pasukan pemerintah selama bertahun-tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah Suriah dan Rusia, yang sudah mendukung Presiden Bashar al-Assad dengan kekuatan udara sejak 2015, menyatakan tidak mengincar warga sipil.
"Hampir semua orang yang tinggal di sini tinggal di penampungan sekarang. Ada lima atau enam keluarga dalam satu rumah. Tidak ada makanan, tidak ada pasar," ujarnya.
[Gambas:Video CNN]
Foto-foto Reuters yang diambil di timur Ghouta, Rabu, menunjukkan warga mengais dari reruntuhan bangunan, membawa orang-orang bersimbah darah ke rumah sakit dan meringkuk di jalanan berpuing.
Peringatan serangan udara yang dikelola Pertahanan Sipil Suriah, badan penyelamat di area oposisi, berbunyi setiap beberapa menit, menandakan pesawat serbu terpantau lepas landas.
Lihat juga:Pengeboman di Suriah Tewaskan 77 Warga Sipil |
Abdullah Kahala, seorang pekerja konstruksi, tengah menyantap sarapan bersama istri dan enam anaknya ketika ledakan besar menghancurkan tembok. "Saya melihat Hala dan Sara tergeletak bersimbah darah dan ibu mereka histeris dan anak-anak kami lainnya syok di lantai," kata dia lewat pesan suara.
[Gambas:Video CNN]
"Bom berjatuhan di mana-mana di sekitar rumah kami. Kami telah menghabiskan sepanjang pekan lalu menggali puing-puing di sekitar area kami dengan tangan kosong."
Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengecam pengeboman yang mengenai rumah sakit dan infrastruktur sipil lain itu, menyebutnya bisa dianggap sebagai kejahatan perang.
(aal)