Reaksi di dunia maya langsung ditanggapi serangkaian propaganda pada Senin (26/2), disertai pemblokiran artikel dan penerbitan tulisan-tulisan yang memuji Partai Komunis.
Partai penguasa itu mengajukan penghapusan pasal konstitusi yang membatasi masa jabatan presiden hingga dua periode. Artinya, Xi yang juga mengepalai partai dan militer China, bisa jadi tidak perlu turun jabatan meski sudah dua kali memimpin negara tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, tampaknya Partai Komunis mesti meyakinkan warga bahwa amandemen itu tidak akan memberikan Xi terlalu banyak kekuasaan, meski popularitas Presiden masih sangat tinggi berkat upayanya memberantas korupsi.
"Argh, kita akan jadi Korea Utara," kata seorang pengguna Weibo, media sosial populer di China. Korut telah dikuasai oleh dinasti Kim sejak akhir 1940-an, sejak Kim Il-sung mendirikan negara tersebut.
"Kita akan mengikuti contoh negara tetangga," kata seorang pengguna lainnya, sebagaimana dikutip Reuters.
"Sejak reformasi dan membuka diri, China, dipimpin Partai Komunis, telah sukses menyelesaikan dan akan terus secara efektif menyelesaikan masalah partai dan pergantian kepemimpinan nasional secara taat hukum," bunyi artikel itu, merujuk pada reformasi empat dekade lalu.
Kekuatan Xi Jinping semakin kuat jika konstitusi China diamandemen. (REUTERS/Jason Lee) |
"Sebagian besar pejabat dan massa mengatakan mereka berharap reformasi konstitusional ini diloloskan," bunyi artikel itu, dikutip Reuters.
Edisi internasional akun WeChat surat kabar tersebut sepenuhnya menghilangkan artikel yang berfokus pada batas masa jabatan, menggantikannya dengan laporan Xinhua yang merangkum seluruh proposal amandemen.
(aal)
Kekuatan Xi Jinping semakin kuat jika konstitusi China diamandemen. (REUTERS/Jason Lee)