Rusia dan Suriah menyalahkan para pemberontak atas kegagalan gencatan senjata ini, menyebut mereka menembaki rute aman yang disiapkan untuk evakuasi warga sipil. Para pemberontak menampik tudingan itu, dan seorang jenderal Amerika Serikat menuding Moskow bertindak sebagai "pembakar sekaligus pemadam kebakaran."
Dikutip Reuters, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan Moskow akan kembali merencanakan gencatan senjata serupa untuk memungkinkan penyaluran bantuan ke timur Ghouta melalui jalur yang disebut rusia dengan koridor kemanusiaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ratusan orang tewas dalam pengeboman yang sudah 10 hari dilakukan pemerintah di timur Ghouta. Serangan itu adalah salah satu operasi udara dengan dampak paling parah dalam perang yang sudah memasuki tahun kedelapan ini.
[Gambas:Video CNN]
Komite Palang Merah menyatakan siap mengakses timur Ghouta untuk menyalurkan bantuan jiwa, tapi rencana gencatan selama lima jam itu terlalu singkat.
Tanpa menyinggung Rusia, Direktur Timur Tengah Komite Palang Merah Robert Mardini mengatakan koridor kemanusiaan mesti direncanakan dengan baik dan disepakati semua pihak dalam perang, sementara orang-orang mesti diperbolehkan pergi atas kemauan sendiri.
Sejumlah sumber diplomatik, sementara itu, mengatakan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia membuka penyelidikan terhadap serangan di timur Ghouta untuk menyimpulkan apakah ada senjata terlarang yang digunakan.
Para pemimpin politik di Perancis, Amerika Serikat dan Inggris mengatakan akan mendukung tindakan militer terarah pada Damaskus jika ada bukti penggunaan senjata kimia oleh pasukan Presiden Bashar al-Assad, sekutu Rusia.
(aal)